Ilustrasi - Kawasan Kayutangan Heritage di Kota Malang, Jawa Timur. ANTARA/Vicki Febrianto
Fenomena Bediding di Malang Raya Diprakirakan Berlangsung hingga September 2026
Lukman Diah Sari • 4 June 2026 15:04
Malang: Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Timur menyebut fenomena bediding atau suhu dingin saat musim kemarau, khususnya di Malang Raya akan berlangsung hingga September 2026. Fenomena itu disebabkan aktifnya angin monsun timuran bersifat kering dan dingin.
"Bediding merupakan kondisi dengan suhu lingkungan lebih dingin dibandingkan normalnya, ini merupakan siklus musiman dan ditandai dengan aktifnya angin monsun timuran yang sifatnya kering dan dingin," kata Prakirawan BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur Linda Fitrotul di Malang, Kamis, 4 Juni 2026, melansir Antara.
Kondisi tersebut juga dikarenakan saat musim kemarau tidak ada lagi tutupan awan dan rendahnya intensitas hujan. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Timur memperkirakan fenomena bediding akan terjadi antara Juni hingga September 2026, yang merupakan periode musim kemarau.

Kota Malang. MTVN/Daviq Umar Al Faruq
Adapun ciri fenomena bediding, salah satunya adalah suhu udara pada pagi dan malam hari akan terasa lebih dingin dari biasanya. Linda menyampaikan rata-rata suhu udara saat ini yang bertepatan dengan bediding berkisar antara 17-18 derajat Celsiu, dengan perkiraan waktu mulai pukul 03.00 sampai dengan 06.00 WIB.
"Kalau malam hari akhir-akhir ini saat bediding tercatat 20-21 derajat Celsius," ujar dia.
Dia mengungkap, suhu pada malam hingga dini hari itu lebih rendah jika dibandingkan saat pagi dan siang hari. Berdasarkan pengamatan, kata dia, pukul 07.30 WIB rata-rata suhu saat pagi sekitar 22-25 derajat Celsius.
"Kemudian saat siang sekitar pukul 12.00-14.00 WIB suhunya sekitar 27-29 derajat Celsius ketika bediding," ungkap dia.
Kemudian, pada peternakan mampu menyebabkan hewan ternak mengalami kondisi stres, bahkan memicu penyakit hingga kematian.