Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Emas Dunia Melemah Dipicu Sentimen Pasar
Eko Nordiansyah • 20 October 2026 08:25
Chicago: Harga emas dunia melemah pada Senin, 19 Oktober 2026, di tengah dolar AS yang lebih kuat dan aksi jual obligasi. Harga minyak juga mencatatkan pengurangan kerugian, yang turut memengaruhi sentimen pasar.
Dikutip dari Investing, Selasa, 20 Oktober 2026, emas spot turun 0,6 persen menjadi USD4.140,52 per ons. Sementara emas berjangka turun 0,5 persen menjadi USD4.160,30 per ons.
Dolar AS menguat, obligasi dilepas
Situasi yang memanas di Prancis menarik perhatian pada hari Senin. Ekonomi terbesar kedua di zona euro ini diguncang selama akhir pekan oleh protes keras terkait melonjaknya biaya hidup dan kurangnya pendanaan untuk layanan publik, di saat negara tersebut juga tengah menghadapi krisis fiskal.Ribuan orang terlibat bentrokan dengan polisi di berbagai kota di Prancis dan menjarah toko-toko, memicu salah satu kerusuhan terburuk dalam beberapa tahun terakhir. Kekerasan ini meningkatkan tekanan terhadap Presiden Emmanuel Macron, yang masa jabatan terakhirnya menjelang 2027 semakin lumpuh akibat ketidakpuasan sosial.
Di tengah situasi ini, biaya pinjaman pemerintah Prancis tenor 10 tahun melonjak. Aksi jual obligasi ini merembet ke pasar obligasi Eropa lainnya hingga ke Amerika Serikat. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun naik 4,3 basis poin menjadi 5,143 persen, sementara imbal hasil tenor dua tahun naik 4,2 basis poin menjadi 4,778 persen.
Harga emas sempat turun pekan lalu karena kenaikan harga minyak lebih dominan dibandingkan penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve. Peluang pengetatan kebijakan moneter sempat meningkat setelah laporan inflasi konsumen dan produsen AS menunjukkan angka yang jauh lebih tinggi dari perkiraan.
Namun, probabilitas tersebut mereda pada hari Jumat setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, tidak memberikan indikasi apa pun mengenai langkah suku bunga di masa mendatang.
(2).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok Bappebti)
Permintaan emas masih tinggi
Logam mulia ini terus bertahan di atas level dukungan (support) USD4.000 per ons sejak Agustus, sebagian berkat permintaan sebagai aset aman (safe-haven).Dalam sebuah catatan, para analis di ANZ menambahkan kekhawatiran mengenai fiskal dan keberlanjutan utang membuat imbal hasil (yield) yang tinggi tidak lagi dipandang sebagai tanda pertumbuhan yang lebih kuat, melainkan sebagai alasan untuk memegang emas sebagai lindung nilai.
Para analis tersebut menambahkan bahwa investor Tiongkok terus memilih emas di tengah pelemahan pasar ekuitas dan properti, sementara bank sentral berbagai negara telah mempercepat upaya untuk mendiversifikasi cadangan mereka agar tidak terlalu bergantung pada aset tertentu saja.
Mereka memperkirakan potensi kenaikan harga emas akan tetap terbatas dalam jangka pendek, sebelum akhirnya bergerak melampaui USD5.000 per ons pada 2027. Prospek dari perusahaan pialang ini sebagian bergantung pada keberlanjutan investasi dan permintaan dari bank sentral, di tengah upaya para investor dalam mencermati arah suku bunga AS serta nilai dolar.
Harga minyak kurangi penurunan
Beralih ke geopolitik, penurunan harga minyak mulai mereda pada hari Senin. Minyak mentah berjangka Brent, yang menjadi acuan global, turun 0,1 persen dan ditutup pada harga USD109,16 per barel.Harga minyak mentah sempat anjlok setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif pekan lalu yang menangguhkan sejumlah sanksi terhadap Rusia, hanya beberapa hari sebelum sanksi tersebut diberlakukan.
Trump juga membatalkan rencana pengenaan tarif terhadap negara-negara yang mengimpor minyak dari Rusia. Pemimpin AS tersebut menyatakan bahwa kebijakan ini dilakukan demi kepentingan nasional Amerika Serikat.
Namun, sentimen pasar kemudian kembali tertekan setelah kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan pada hari Senin bahwa mereka telah melancarkan operasi militer dalam 48 jam terakhir terhadap target-target di Arab Saudi.
Tindakan ini merupakan balasan atas serangan yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman terhadap fasilitas sipil di kota Sanaa. Operasi kelompok Houthi menyasar fasilitas Saudi Aramco di kota pelabuhan Yanbu, ladang minyak Shaybah, serta Bandara Internasional King Khalid dan Bandara Internasional Abha, di antara target-target lainnya.