Ini Tantangan Daya Beli Kelas Menengah di Indonesia

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede. Foto: Metro TV/Ardhan.

Ini Tantangan Daya Beli Kelas Menengah di Indonesia

Husen Miftahudin • 22 October 2026 13:59

Jakarta: Tekanan biaya hidup dan kenaikan harga energi menjadi tantangan bagi daya beli sebagian masyarakat kelas menengah di Indonesia. Kondisi tersebut turut memengaruhi pola konsumsi, meskipun sejumlah sektor ekonomi masih menunjukkan kinerja yang relatif baik.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede mengatakan, kondisi perekonomian Indonesia secara umum masih cukup resilien. Namun, jika ditelaah berdasarkan kelompok masyarakat dan sektor usaha, kinerja ekonomi menunjukkan perbedaan.

Menurut dia, sebagian kelompok kelas menengah merasakan tekanan akibat meningkatnya biaya hidup atau cost of living. Kondisi tersebut dapat mengurangi kemampuan masyarakat untuk mempertahankan konsumsi di tengah kenaikan berbagai kebutuhan.

"Sebagian kelas menengah merasakan dampak kenaikan harga energi dan cost of living yang makin meningkat sehingga purchasing power-nya ikut melemah. Namun, dari sisi kelas menengah atas, daya belinya masih relatif resilien," ujar Josua dalam talk show yang diselenggarakan Permata Bank, Kamis, 22 Oktober 2026.

 
Sebaliknya, kelompok kelas menengah atas dinilai masih memiliki daya beli yang relatif kuat. Perbedaan kondisi tersebut turut tercermin dalam kinerja sejumlah sektor jasa yang berkaitan dengan konsumsi masyarakat.

Josua menilai, kondisi ini perlu dicermati untuk memahami kualitas pertumbuhan ekonomi, terutama ketika ketidakpastian global masih berpotensi memengaruhi harga energi, biaya produksi, dan stabilitas ekonomi domestik.
 

Pertumbuhan kinerja sektor ekonomi tak merata


Josua menjelaskan, meskipun pertumbuhan ekonomi Indonesia secara umum masih relatif kuat, kinerja setiap sektor tidak sepenuhnya merata. Sejumlah sektor jasa yang berkaitan dengan konsumsi kelompok masyarakat berdaya beli tinggi masih menunjukkan kinerja yang baik.
 
Sektor tersebut antara lain perjalanan atau traveling, kebugaran dan kesehatan atau wellness, restoran, pusat perbelanjaan, serta pusat data atau data center. Sektor kesehatan atau healthcare juga menjadi salah satu sektor yang dicermati masih memiliki kinerja relatif baik.
 
Di sisi lain, sejumlah industri manufaktur turut menghadapi tekanan akibat perkembangan ekonomi global. Kondisi ini menunjukkan dampak ketidakpastian ekonomi dapat berbeda antara sektor usaha maupun kelompok konsumen.
 
Selain itu, kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan tambahan terhadap biaya produksi dan harga barang. Apabila tekanan tersebut berlanjut, daya beli masyarakat berpotensi semakin terbebani.
 
Karena itu, pemantauan terhadap perkembangan inflasi, biaya hidup, dan konsumsi masyarakat menjadi penting untuk melihat seberapa kuat permintaan domestik menopang pertumbuhan ekonomi.

Pemerintah Gencarkan Gerakan Pasar Bersih Demi Tarik Minat Belanja Masyarakat

(Ilustrasi pasar bersih. Foto: Medcom.id)

 

Reformasi pasar modal jadi momentum perbaikan


Selain daya beli, Josua juga menyoroti perkembangan pasar modal Indonesia setelah pengumuman konsultasi MSCI terkait asesmen pasar saham Indonesia menjadi Standalone Market.
 
Menurut dia, respons pasar yang tajam menunjukkan pentingnya kepercayaan investor dalam menjaga stabilitas pasar keuangan. Namun, ia menegaskan usulan perubahan atau reklasifikasi yang dibahas masih berada dalam tahap konsultasi dan belum menjadi keputusan akhir MSCI.
 
"Usulan perubahan atau reklasifikasi Indonesia ini masih berada dalam proses konsultasi dan belum menjadi keputusan akhir dari MSCI," kata Josua.
 
Proses tersebut dinilai dapat menjadi kesempatan bagi otoritas dan pelaku pasar untuk memperkuat transparansi kepemilikan saham, meningkatkan kualitas tata kelola, serta memperbaiki struktur pasar modal domestik.

Josua menilai perhatian terhadap pasar modal seharusnya tidak hanya terfokus pada pergerakan indeks saham dalam jangka pendek. Perbaikan struktural juga diperlukan untuk meningkatkan kredibilitas dan daya tarik pasar dalam jangka panjang.

"Perhatian kita tidak seharusnya terfokus pada pergerakan indeks saham jangka pendek saja, tetapi juga pada langkah-langkah perbaikan struktural," ujar dia.
 
Dengan reformasi yang konsisten, tegas Josua, pasar modal Indonesia diharapkan menjadi lebih transparan dan kompetitif sehingga dapat mendukung kepercayaan investor.

Di tengah tekanan daya beli dan ketidakpastian global, penguatan permintaan domestik serta perbaikan kualitas pasar keuangan menjadi bagian penting untuk mempertahankan ketahanan ekonomi Indonesia. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Husen Miftahudin)