Indonesian Dance Festival 2026 berlangsung pada 29 Oktober–1 November di Jakarta, menghadirkan karya tari kontemporer seniman Indonesia dan internasional. (Dok. Istimewa)
Indonesian Dance Festival 2026 Hadirkan Seniman Indonesia dan Internasional, Perluas Kolaborasi Tari Kontemporer dan Antar Ekosistem
Duta Erlangga • 26 October 2026 13:10
Jakarta: Menjelang penyelenggaraannya pada 29 Oktober–1 November 2026, Indonesian Dance Festival menggelar Temu Media dan Komunitas pada Minggu, 25 Oktober 2026, di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia, untuk memperkenalkan visi festival, tema kuratorial, serta rangkaian karya dan program yang akan hadir tahun ini.
Mengusung tema ‘Underlying Drift – Yang Bergeser di Kedalaman’, Indonesian Dance Festival 2026 berangkat dari refleksi tentang perubahan yang berlangsung di tengah kehidupan yang semakin tidak menentu. Hal-hal yang tampak mapan tidak selalu berarti diam; di baliknya, terdapat pergeseran yang terus berlangsung, membentuk cara manusia memahami tubuh, ingatan, pengetahuan, dan pengalaman hidup.
Indonesian Dance Festival 2026 berlangsung pada 29 Oktober–1 November di Jakarta, menghadirkan karya tari kontemporer seniman Indonesia dan internasional. (Dok. Istimewa)
Melalui tari kontemporer, Indonesian Dance Festival mengajak publik untuk menyelami perubahan yang kerap luput dari perhatian sekaligus melihat bagaimana pergeseran kecil dapat membuka perspektif dan kemungkinan baru.
“Tema ini lahir dari perhatian kami terhadap berbagai perubahan dan ketidakpastian yang berlangsung di sekitar kita. Situasi geopolitik, ekonomi, lingkungan, hingga perkembangan teknologi turut memengaruhi kehidupan sehari-hari, termasuk cara seniman bekerja dan berkarya. Bagi kami, tema ini tidak hanya tercermin dalam karya-karya yang dihadirkan, tetapi juga dalam cara kami menjalankan festival: terus beradaptasi, merawat hubungan, dan mencari kemungkinan di tengah perubahan. Mendekatkan pertemuan, memperluas lingkar dukungan. Itulah yang ingin terus kami upayakan melalui Indonesian Dance Festival,” ujar Ratri Anindyajati, Direktur Indonesian Dance Festival.
Dari sisi keberlanjutan institusi, Ketua Dewan Pembina Yayasan Loka Tari Nusantara, Imron Zuhri, menyoroti pentingnya menjaga keberlangsungan IDF sebagai bagian dari perkembangan tari kontemporer Indonesia.
“Sejak didirikan pada 1992, Indonesian Dance Festival telah menjadi bagian dari perjalanan tari kontemporer di Indonesia. Keberlanjutan festival ini penting bukan hanya untuk menghadirkan karya-karya baru, tetapi juga untuk memastikan para seniman memiliki ruang untuk terus bereksplorasi dan keberanian untuk mempertanyakan berbagai hal melalui praktik penciptaan karya tari mereka,” ungkap Imron Zuhri.
Sementara itu, Kurator In-House Indonesian Dance Festival 2026, Linda Mayasari, menjelaskan bahwa perspektif kuratorial tahun ini membuka ruang bagi beragam pendekatan artistik dan pengalaman yang dibawa para seniman melalui karya mereka.
“Di dunia yang menuntut kecepatan dan produktivitas, the drift mengajak kita memahami bahwa bergerak tidak selalu berarti melaju. Ada kalanya kita perlu melambat atau berhenti sejenak untuk memahami arah dan menentukan kapan harus kembali melangkah maju,” jelas Linda.
Melalui pendekatan tersebut, Indonesian Dance Festival 2026 tidak hanya menghadirkan karya-karya pertunjukan, tetapi juga menempatkan proses artistik, kolaborasi, dan pertemuan sebagai bagian dari upaya merawat keberlanjutan ekosistem tari.
“Di medan inilah “drift” menemukan maknanya: menjaga kesadaran atas ritme dan arah di tengah perubahan, sekaligus menjaga kemungkinan tetap hidup dan menolak menerima tatanan dunia yang ada sebagai satu-satunya yang mungkin,” tambah Linda.
Tahun ini, Indonesian Dance Festival memperkenalkan BENTANG, program pertunjukan yang menghadirkan karya-karya koreografi dari seniman Indonesia dan internasional, yang tumbuh dari beragam konteks dan kondisi penciptaan.
Membuka festival pada 29 Oktober 2026, koreografer Hartati akan mempersembahkan karya terbarunya, Waktu Paruh, sebuah karya komisi Indonesian Dance Festival bersama Bakti Budaya Djarum Foundation. Karya ini merefleksikan tatanan sosial, etika, dan nilai kemanusiaan yang perlahan meluruh, serta mempertanyakan bagaimana manusia terus bergerak ketika pijakan yang selama ini menopang kehidupannya mulai berubah.
BENTANG juga menghadirkan La XXX Punk II: Betel Nut Green karya Fangas Nayaw dari Taiwan. Dari Jepang, team chiipro menghadirkan MENSTRUATION SUMO DANCE, sebuah eksplorasi artistik yang mempertemukan pengalaman tubuh, menstruasi, dan berbagai norma serta konstruksi sosial yang menyertainya. Terakhir, KONJO: Becoming Otherwise karya Densiel Lebang yang berangkat dari riset artistik tentang masyarakat Konjo di Bulukumba, Sulawesi Selatan.
“Melalui Konjo, saya mengeksplorasi bagaimana pengetahuan dan pengalaman budaya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa artistik. Karya ini juga menjadi perjalanan penemuan diri, mulai dari identitas saya, ciri khas kapal pinisi, budaya Bulukumba, hingga pengalaman saya sebagai calon ibu. Di Sulawesi, ada kepercayaan bahwa laut adalah ibu dan kapal adalah anak,” tutur Densiel, yang hadir dalam sesi temu media saat usia kehamilannya menginjak delapan bulan.
Selain BENTANG, Indonesian Dance Festival 2026 menghadirkan KAMPANA, sebuah laboratorium pengembangan karya yang dijalankan bersama berbagai platform dan jejaring seni dari Indonesia serta kawasan Asia Pasifik.
Enam karya yang dihadirkan dalam KAMPANA memperlihatkan beragam pendekatan dan perjalanan para seniman. Perwakilan seniman KAMPANA, Adrian turut membagikan pengalamannya dalam temu media: “Kesempatan ini, saya kembali bisa mempresentasikan karya KALENG ROMBENG! Setelah berproses di platform JICON. Kemungkinan untuk bertemu melakukan pengembangan karya dan bertemu publik yang lebih luas adalah suatu kesempatan yang berharga,” ujar Adrian.
Indonesian Dance Festival 2026 berlangsung pada 29 Oktober–1 November di Jakarta, menghadirkan karya tari kontemporer seniman Indonesia dan internasional. (Dok. Istimewa)
Melalui kedua program tersebut, Indonesian Dance Festival 2026 memberi perhatian pada beragam bentuk dan pendekatan koreografi, sekaligus proses penciptaan dan hubungan kolaboratif yang memungkinkan praktik artistik terus berkembang. Festival juga menghadirkan ruang-ruang pertemuan melalui program Lokakarya, Bincang Tari, dan Simpul Gerak (Link in Motion)--sebuah program jejaring internasional IDF yang mempertemukan produser, kurator, dan praktisi seni pertunjukan dari Indonesia dengan kolega internasional yang memiliki pengalaman, jaringan, dan keterhubungan dengan berbagai ekosistem seni pertunjukan. Sebanyak lebih dari 40 praktisi tari internasional terkonfirmasi akan hadir di perhelatan tahun ini.
Indonesian Dance Festival 2026 akan berlangsung pada 29 Oktober–1 November 2026 di Jakarta, dengan rangkaian pertunjukan, lokakarya, diskusi, dan program pengembangan seniman di Taman Ismail Marzuki, Institut Kesenian Jakarta dan Komunitas Salihara Arts Center.
Melalui penyelenggaraan tahun ini, IDF mengajak publik untuk melihat tari kontemporer sebagai ruang pertemuan antara tubuh dan ruang, tradisi dan masa kini, serta pengalaman lokal dan percakapan global.
Indonesian Dance Festival di bawah naungan Yayasan Lokatari Nusantara didukung oleh Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Bakti Budaya Djarum Foundation, Komunitas Salihara Arts Center, Dana Indonesia Raya, Argo Visual, Paviliun Raden Saleh ARTOTEL Curated, dan PT. Jakarta Propertindo (Perseroda) dan Taman Ismail Marzuki sebagai mitra lokasi.
Informasi lebih lanjut mengenai program dan penyelenggaraan Indonesian Dance Festival 2026 dapat diakses melalui Instagram @indonesiandancefestival dan situs resmi indonesiandancefestival.id.