Flavio Bolsonaro Unggul di Pilpres, Ribuan Mahasiswa Brasil Gelar Demonstrasi

Flavio Bolsonaro memimpin dalam pertarungan Pilpres Brasil. Foto: EPA

Flavio Bolsonaro Unggul di Pilpres, Ribuan Mahasiswa Brasil Gelar Demonstrasi

Muhammad Reyhansyah • 8 October 2026 12:19

Rio de Janeiro: Ribuan orang turun ke jalan di Rio de Janeiro, Brasil, dalam aksi yang dipimpin mahasiswa untuk menentang calon presiden Flavio Bolsonaro serta meningkatnya pengaruh kelompok sayap kanan di negara tersebut.

Aksi berlangsung pada Rabu, 7 Oktober 2026, beberapa hari setelah senator sayap kanan Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, meraih suara terbanyak dalam putaran pertama pemilihan presiden Brasil.

Flavio Bolsonaro memperoleh 47 persen suara, mengungguli pesaing terdekatnya, Presiden petahana dari kelompok kiri Luiz Inacio Lula da Silva, yang meraih 45 persen.

Karena tidak ada kandidat yang memperoleh lebih dari 50 persen suara, keduanya akan kembali berhadapan dalam putaran kedua yang dijadwalkan pada 25 Oktober.

Hasil tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa Brasil dapat menjadi negara Amerika Latin terbaru yang mengalami peralihan kekuasaan dari kelompok kiri ke kanan.

Para demonstran berjalan melewati pusat kota Rio sambil membawa poster bertuliskan “Jangan pernah lagi Bolsonaro” dan “Tidak untuk sang ayah, tidak untuk sang anak”. 

Sebagian lainnya membawa spanduk bertuliskan “Kediktatoran jangan pernah lagi” dan “Bolsonaro keluar”.

“Saya berada di sini karena saya percaya pada demokrasi. Karena saya takut,” kata Alice Carneiro, 25 tahun, seorang administrator di bidang pelayaran yang mengikuti aksi tersebut, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 8 Oktober 2026.

Ia mengatakan, pemerintahan sayap kanan membuatnya khawatir akan munculnya tekanan terhadap istrinya yang merupakan seorang transgender.

Warisan Jair Bolsonaro

Jair Bolsonaro, mantan Presiden Brasil, memimpin negara tersebut dari 2019 hingga 2023. Masa pemerintahannya yang hanya berlangsung satu periode diwarnai berbagai kontroversi terkait kebijakan sayap kanannya.

Ia pernah menyatakan dukungan terhadap kediktatoran militer Brasil pada masa lalu yang bertanggung jawab atas hilangnya dan terbunuhnya ratusan orang yang dianggap sebagai pembangkang.

Bolsonaro juga menyebarkan klaim yang tidak berdasar mengenai keakuratan sistem pemilu Brasil. Hal tersebut kemudian berujung pada putusan pengadilan yang melarangnya menduduki jabatan publik selama delapan tahun.

Saat ini, mantan presiden tersebut menjalani hukuman penjara selama 27 tahun setelah dinyatakan bersalah merencanakan upaya membatalkan kekalahannya dalam pemilu 2022.

Setelah Lula dilantik pada 2023, pendukung Bolsonaro menyerbu gedung-gedung pemerintahan di ibu kota. Mereka dilaporkan berharap aksi tersebut dapat memicu pemberontakan militer.

Tindakan Jair Bolsonaro tersebut oleh para pengkritiknya dipandang sebagai ancaman terhadap demokrasi Brasil.

Sementara itu, Senator Flavio Bolsonaro telah memperoleh dukungan dari ayahnya. Ia juga mendukung pemberian amnesti bagi Jair Bolsonaro, sebuah kemungkinan yang memicu kekhawatiran di kalangan demonstran.

“Saya merasa sangat, sangat sedih melihat kebangkitan sayap kanan dan meningkatnya Bolsonarisme di Brasil,” kata Emmanuel Araujo, 19 tahun, yang tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian masuk universitas.

“Lula mungkin bukan kandidat pilihan saya, tetapi di tengah barbarisme ini, kita harus memilih antara seseorang yang masih bisa kita kritik dan seseorang yang mungkin akan merampas hak kita untuk berbicara,” lanjut Araujo.

(Fajar Nugraha)