Bawa Perspektif Global ke Kawasan Transmigrasi, Akademisi Jerman-Indonesia Rumuskan  Green Design

Kementerian Transmigrasi bersama Undip dan Technical University of Munich merumuskan konsep green design bagi kawasan transmigrasi Rempang Eco City, Batam (Foto: Dok.Tim Summer Course 2026)

Bawa Perspektif Global ke Kawasan Transmigrasi, Akademisi Jerman-Indonesia Rumuskan Green Design

Rosa Anggreati • 7 October 2026 15:25

Batam: Kementerian Transmigrasi bersama Universitas Diponegoro (Undip) dan Technical University of Munich (TUM), Jerman, melibatkan 20 akademisi dalam Summer Course 2026 untuk merumuskan konsep green design bagi kawasan transmigrasi Rempang Eco City, Batam. 

Program yang berlangsung selama 10 hari tersebut mengusung konsep pertumbuhan hijau (green growth) dengan melibatkan akademisi dan mahasiswa TUM untuk mengkaji dinamika sosial dan ekologis di kawasan transmigrasi Rempang Eco City. Hasil kajian tersebut nantinya menjadi rekomendasi kebijakan bagi pengembangan kawasan transmigrasi Rempang Eco City.

Dalam pelaksanaannya, para delegasi tidak hanya mempelajari teori perencanaan tata ruang global, tetapi juga turun langsung ke lapangan untuk memahami kondisi dan kearifan lokal masyarakat. Pendekatan tersebut dilakukan agar konsep perencanaan yang dibawa dari perspektif global dapat disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat setempat.
 


"Melalui kolaborasi ini, kita membawa global perspective ke kawasan transmigrasi untuk memahami pandangan dunia terhadap potensi wilayah ini. Kombinasi antara kearifan masyarakat lokal, akademisi nasional, serta jaringan penelitian internasional diharapkan melahirkan solusi yang lebih inovatif, adil, serta meningkatkan kepercayaan diri dalam memajukan kawasan transmigrasi," ujar Penanggung Jawab UNDIP Summer Course 2026, Prof. Dr.-Ing. Wiwandari Handayani, melalui siaran pers, pada Rabu, 7 Oktober 2026.

Pada hari kelima, kegiatan dilanjutkan dengan aksi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat di Tanjung Banon, Kecamatan Galang, Batam. Para delegasi juga turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi wilayah. Salah satunya, dengan mengunjungi dan mempraktikkan pembuatan batik ecoprint bersama warga lokal. Para peserta tampak antusias menyimak penjelasan perajin mengenai teknik pewarnaan alami ramah lingkungan tersebut.

Para delegasi juga menyambangi SMA Negeri 30 Batam di kawasan Rempang Eco City. Dalam kunjungan ini, mereka memperkenalkan budaya Jerman, berinteraksi dan bermain bersama, serta memberikan motivasi kepada para siswa transmigran.

Kunjungan lapangan ini meninggalkan kesan mendalam bagi peserta internasional. Salah satu delegasi asal TUM Jerman membagikan pengalamannya saat berinteraksi langsung dengan warga dan para siswa.


(Foto: Dok.Tim Summer Course 2026)

"Kami pergi ke toko batik dan belajar tentang budaya, bagaimana mereka melukis segalanya. Kami belajar tentang di mana mereka menjualnya dan apa yang ingin mereka lakukan dengannya. Dan kemudian kami pergi ke sekolah untuk belajar tentang anak-anak dan budayanya, dan apa yang mungkin ingin mereka lakukan nanti dalam hidup," ujar Kim Lara, Delegasi TUM.

Kunjungan ini pun mendapat sambutan hangat dari para siswa lokal.

"Senang, mereka ramah dan baik. Mereka bilang mau difasilitasi apa dan memberikan informasi tentang kuliah di Jerman," ujar Jenifer, siswa SMAN 30 Batam.

Dalam kegiatan tersebut, delegasi dibagi menjadi empat fokus utama, yakni strategi pengembangan ekonomi, pengelolaan pertanahan dan lanskap, pengelolaan lingkungan ekologi, dan strategi pengembangan masyarakat dan sosial.
 
Pengembangan kawasan transmigrasi yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat juga selaras dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan pembangunan nasional tidak cukup hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus memastikan manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Hal ini sejalan dengan pandangan Menko IPK Agus Harimurti Yudhoyono terkait paradigma baru transmigrasi. Fokusnya bukan lagi memindahkan penduduk ke luar Jawa, melainkan mengembangkan kawasan agar mampu menarik investasi serta menciptakan pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman menyampaikan bahwa tiap kawasan transmigrasi perlu dikembangkan sesuai keunggulan sektor unggulannya masing-masing.

“Setiap kawasan transmigrasi memiliki keunggulan yang berbeda. Ada yang kuat di sektor digital, ada yang potensial untuk industri maritim, energi, pertanian, maupun sektor lainnya. Pengembangannya harus mengikuti keunggulan masing-masing kawasan,” ujar Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman.

(Rosa Anggreati)