Founder & CEO Hive Five Sabar L Tobing saat memberikan kuliah umum di USU bertajuk The Future of Taxation: AI, Digital Transformation & the Future of Tax Professionals, Selasa, 29 September 2026
Mahasiswa Didorong Kuasai Literasi AI untuk Bekal Profesionalitas Dunia Kerja
Whisnu Mardiansyah • 30 September 2026 09:18
Medan: Mahasiswa Universitas Sumatra Utara (USU) diingatkan untuk tidak menjadikan nama besar perguruan tinggi sebagai satu-satunya modal memasuki dunia profesional. Pasalnya, erjalanan karier setelah lulus kuliah lebih banyak ditopang oleh kompetensi, integritas, pola pikir, serta kemauan untuk terus mengembangkan diri.
“Nama kampus tidak menjamin kesuksesan. Kompetensi, integritas, pola pikir, dan kemauan untuk terus berjuang menjadi bekal utama dalam membangun masa depan,” kata Founder & CEO Hive Five Sabar L Tobing saat memberikan kuliah umum di USU bertajuk The Future of Taxation: AI, Digital Transformation & the Future of Tax Professionals, Selasa, 29 September 2026.
Ia mendorong mahasiswa memanfaatkan masa perkuliahan tidak sekadar untuk mengejar gelar akademik. Lingkungan kampus, menurut dia, perlu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk membentuk pola pikir, kemampuan analitis, karakter, sekaligus kesiapan menghadapi tuntutan pekerjaan.
Sabar juga mengingatkan mahasiswa untuk membangun keahlian secara lebih spesifik dan mendalam. Penguasaan berbagai bidang dinilai belum cukup jika tidak disertai kemampuan yang kuat pada bidang tertentu.
“Mahasiswa perlu memperdalam ilmu secara terarah dan membangun keahlian yang kuat, bukan sekadar menguasai banyak hal tanpa kedalaman kompetensi,” ujarnya.
Tujuh Kompetensi untuk Hadapi Dunia Kerja
Dalam pemaparannya, Sabar menguraikan tujuh kompetensi fundamental yang perlu dipersiapkan mahasiswa untuk menghadapi perubahan kebutuhan industri.
Ketujuh kompetensi tersebut mencakup pemahaman dasar akuntansi, literasi kecerdasan buatan atau AI literacy, penguasaan data dan teknologi, kemampuan komunikasi dan bahasa Inggris, integritas serta etika profesional, pemahaman proses bisnis, dan kemampuan mengintegrasikan seluruh kompetensi tersebut untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan kerja.
“Perusahaan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknologi dalam menyelesaikan permasalahan bisnis,” ujarnya.
Ia menilai kemampuan mengolah dan memanfaatkan data semakin penting seiring perkembangan teknologi. Kondisi serupa juga terjadi pada sektor perpajakan yang terus mengalami perubahan melalui digitalisasi dan penggunaan kecerdasan buatan.
Sabar menyebut pemerintah dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) turut beradaptasi dengan perkembangan teknologi untuk mendukung efisiensi dalam sistem perpajakan.
Atas kondisi tersebut, mahasiswa yang hendak berkarier di bidang perpajakan perlu membekali diri dengan kemampuan yang lebih luas. Pemahaman terhadap regulasi dan teori perpajakan saja dinilai perlu dilengkapi dengan kemampuan teknologi, data, komunikasi, serta pemahaman proses bisnis.
Personal Branding Perlu Ditopang Kompetensi
Selain kemampuan teknis, Sabar turut menyoroti pentingnya membangun personal branding sejak berada di bangku kuliah. Menurut dia, citra profesional dapat membantu membangun kepercayaan, memperluas jejaring, sekaligus membuka peluang di dunia kerja. Namun, personal branding perlu berjalan seiring dengan kompetensi dan karakter.
“Personal branding menjadi salah satu faktor penting untuk membangun trust, memperluas jaringan, serta membuka peluang dan kesempatan profesional,” ucapnya.
Sabar menekankan kompetensi dan karakter tetap menjadi fondasi dalam perjalanan profesional seseorang. Nama universitas dapat menjadi bagian dari latar belakang pendidikan, tetapi pengembangan kemampuan individu tetap diperlukan untuk menghadapi dunia kerja.
Dalam kesempatan tersebut, Sabar juga membagikan pengalaman pribadinya kepada para mahasiswa. Ia bercerita berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan sempat mendapatkan kesempatan untuk menempuh pendidikan di USU melalui jalur beasiswa.

Ilustrasi. Foto: Freepik.
Namun, kondisi ekonomi membuatnya tidak dapat melanjutkan pendidikan saat itu. Sabar kemudian memilih merantau ke Jakarta dan bekerja sambil meneruskan pendidikan. Perjalanan tersebut menjadi bagian dari proses panjang hingga ia membangun bisnis yang kemudian berkembang menjadi perusahaan dengan 13 cabang dan ratusan karyawan.
“Kegagalan di masa lalu bukanlah akhir dari perjalanan, tetapi bagian dari proses menuju kesuksesan,” jelasnya.
Pengalaman tersebut turut membentuk pandangannya mengenai pentingnya daya juang. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak berhenti mengembangkan kompetensi dan mengejar pendidikan hanya karena menghadapi keterbatasan.
Sabar juga menilai hubungan antara perguruan tinggi dan dunia industri perlu diperkuat untuk membantu mahasiswa memahami kebutuhan nyata di lapangan kerja.
Ia menyebut pembaruan kurikulum, praktik lapangan, program magang, serta pengembangan Tax Center di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapan mahasiswa.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri perpajakan diperlukan untuk mempersiapkan lulusan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujarnya.
Program magang, lanjut dia, dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal lingkungan profesional secara langsung. Selain memperoleh pengalaman praktis, mahasiswa juga dapat membangun jaringan yang mendukung pengembangan karier.
Dalam kegiatan tersebut, Sabar juga menyampaikan komitmennya memberikan beasiswa penuh 100 persen hingga lulus kepada mahasiswa USU yang terpilih. Program tersebut ditujukan untuk membantu mahasiswa memperoleh akses pendidikan dan menyelesaikan studi hingga jenjang kelulusan.
Komitmen tersebut juga berkaitan dengan pengalaman Sabar menghadapi keterbatasan ekonomi ketika menempuh pendidikan. Ia menilai kesempatan memperoleh pendidikan perlu terus dibuka bagi mahasiswa yang menghadapi kendala finansial.
Sabar kembali mengingatkan mahasiswa jika perjalanan menuju keberhasilan tidak hanya bergantung pada institusi pendidikan. Kompetensi, integritas, karakter, serta kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan diri tetap menjadi bagian penting dalam mempersiapkan masa depan profesional.