Komunitas Pemulung Bantargebang Sejahtera (KPBS). Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.
Kisah Komunitas Pemulung Bantargebang Perjuangkan Layanan Kesehatan dan Pendidikan
Fachri Audhia Hafiez • 29 October 2026 17:20
Jakarta: Keberadaan Komunitas Pemulung Bantargebang Sejahtera (KPBS) di Kota Bekasi lahir dari keprihatinan atas peliknya persoalan sosial yang dihadapi para pekerja informal di sana. Komunitas ini telah merintis berbagai aksi kemanusiaan secara swadaya sejak 2017 guna membantu para pemulung mengakses layanan kesehatan hingga pendidikan.
"Pemulung itu kalau berobat tuh masih banyak penolakan, iya. Nah kita yang gerak tuh,” ujar perintis KPBS, Apong, di Sumur Batur, Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Kamis, 29 Oktober 2026.
Baca Juga :
Selain masalah kesehatan, inisiatif awal komunitas ini terbentuk untuk membantu pemulung yang kesulitan memulangkan jenazah anggota keluarga ke kampung halaman. Melalui aksi penggalangan dana sukarela antarpemulung atau ngecerek, mereka rutin mengumpulkan biaya sewa ambulans dan santunan duka.
"Jadi kita caranya ngecer lah dulu mah. Minta-minta kadang kita dapat Rp2 juta, Rp3 juta. Kita kasih tuh sama pihak korban, pihak almarhum," tutur Apong.
Seiring berjalannya waktu, gerakan sosial ini berkembang ke sektor pendidikan anak-anak pemulung yang sebelumnya sulit tersentuh fasilitas sekolah formal. Perjuangan tersebut perlahan membuahkan hasil untuk memutus rantai kemiskinan dan kebiasaan turun-temurun sebagai pemulung.
Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Foto: Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan.
"Tapi semenjak kita berdiri, kita advokasi ini alhamdulillah banyak yang anak-anak pemulung yang lulus SMA sekarang, SMK. Ada juga yang kuliah juga ada. Ini di sebelah sini juga udah berdiri TK,” jelas Apong.
Komunitas yang resmi berdiri pada 2023 yang diinisiasi oleh Apong bersama seorang rekan media bernama Bang Rido ini tumbuh di tengah berbagai keterbatasan. Meski tanpa keanggotaan formal, komitmen untuk turun langsung membuat KPBS terus bertahan membantu sesama pekerja informal di Bantargebang.
"Cuma kita enggak pakai kartu anggota, gitu. Pokoknya setiap pemulung itu udah lah kita anggap bagian dari kita, begitu,” ujar Apong.
(Metrotvnews.com/Arini Noviawati Gunawan)