Harga Minyak Turun Lebih dari 8%, Brent ke USD95 per Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Turun Lebih dari 8%, Brent ke USD95 per Barel

Eko Nordiansyah • 5 November 2026 08:35

Houston: Harga minyak anjlok pada Rabu, 4 November 2026, seiring para investor menilai implikasi pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS terhadap konflik di Timur Tengah, dengan Partai Demokrat berhasil mengambil alih kendali atas kedua majelis Kongres dari Partai Republik yang mendukung Presiden Donald Trump. 

Dikutip dari Investing, Kamis, 5 November 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari, yang menjadi acuan harga minyak global, turun 8,3 persen dan ditutup pada harga USD95,01 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember turun 8,4 persen dan ditutup pada harga USD88,04 per barel.

"Kondisi untuk reli akhir tahun telah menguat secara signifikan hari ini, karena ketidakpastian seputar pemilihan paruh waktu (midterm election) kini tidak lagi menjadi prioritas utama, sementara meredanya ketegangan geopolitik justru menjadi sorotan utama saat ini," ujar ekonom senior di Interactive Brokers Jose Torres.

"Penurunan harga minyak mentah merupakan indikator langsung dari tekanan biaya di masa depan. Jika harga West Texas Intermediate kembali turun ke kisaran 60-an dolar maka kita akan mendekati target inflasi dua persen yang ditetapkan oleh The Fed, dan ekspektasi kenaikan suku bunga untuk tahun 2027 bisa berubah menjadi pemangkasan suku bunga," tambahnya.


(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Dampak kemenangan Partai Demokrat 

Partai Demokrat berhasil mengamankan mayoritas di DPR maupun Senat, yang menjadi hambatan bagi Trump di sisa masa jabatan keduanya.

Hasil pemilihan ini dapat mempersulit agenda kebijakan pemerintah, meskipun para investor tetap fokus pada apakah Washington akan mengambil tindakan militer lebih lanjut terhadap Iran atau justru mengupayakan penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Awal pekan ini, Amerika Serikat melancarkan apa yang disebut oleh para pejabat sebagai serangan defensif terhadap instalasi pertahanan udara Iran di Pulau Qeshm, dekat Selat Hormuz. Trump kemudian menyatakan bahwa Washington tidak memiliki rencana untuk melakukan serangan lanjutan dalam waktu dekat.

Teheran dan Washington tengah meninjau proposal baru dari pihak penengah yang bertujuan untuk menjembatani perbedaan di antara keduanya serta mencegah kembalinya perang terbuka, demikian dilaporkan oleh Bloomberg News, mengutip seorang diplomat yang mengetahui masalah tersebut. 

Namun, Iran menyatakan bahwa tanggapan AS terhadap syarat-syarat yang diajukan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz tidak memuaskan. Qatar telah meningkatkan upaya mediasi, dengan kedua belah pihak terus saling bertukar usulan, tetapi seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa kedua negara masih jauh dari kesepakatan.

Jalur perairan strategis ini tetap menjadi perhatian utama bagi pasar minyak karena gangguan terhadap pelayaran dapat membatasi pasokan minyak mentah global. Satu lagi kapal tanker minyak diserang di Selat Hormuz, yang menambah kekhawatiran mengenai keamanan pengiriman energi di kawasan tersebut.

(Eko Nordiansyah)