Ilustrasi. Foto: Dok Zurich
Zurich Indonesia Sebut Frekuensi Klaim Penanganan ISPA Tinggi Meski Biaya Kecil
Gervin Nathaniel Purba • 4 November 2026 12:03
Jakarta: PT Zurich Asuransi Indonesia Tbk mencatat, penyakit kronis menjadi salah satu faktor yang berkorelasi dengan kenaikan nilai klaim asuransi. Namun, kontribusi klaim juga datang dari penyakit yang relatif mudah dicegah, tetapi frekuensi kejadiannya tinggi.
Salah satunya adalah influenza dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau upper respiratory tract infection (URTI). Meski biaya pengobatan untuk setiap kasus tergolong tidak terlalu besar, tingginya frekuensi penyakit tersebut turut meningkatkan akumulasi klaim.
“Influenza dan ISPA, penyakit akut respiratori, itu frekuensinya tinggi, sering terjadi. Walaupun mungkin biayanya secara individual case tidak terlalu tinggi, tapi sering terjadi,” ujar Country Manager Zurich Indonesia sekaligus Direktur Utama PT Zurich Asuransi Indonesia, Musi Samosir, saat konferensi pers Zurich Asuransi Indonesia di Jakarta, dikutip Rabu, 4 November 2026.
Kolaborasi dengan rumah sakit
Untuk menghadapi kenaikan biaya klaim, Zurich Indonesia juga menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dalam ekosistem kesehatan, termasuk rumah sakit. Kolaborasi ini dilakukan untuk memahami faktor yang mendorong kenaikan biaya perawatan sekaligus mencari solusi, agar kualitas layanan bagi pasien tetap terjaga.
"Bagaimana kita bisa bekerja sama untuk kemudian lebih memahami apa yang mendorong biaya-biaya klaim, apa yang kemudian bisa sama-sama dengan solusi yang dikerjakan untuk best outcome untuk pasien atau untuk nasabah, tapi juga dengan tingkat biaya yang sustainable,” kata dia.
Perusahaan juga berupaya meningkatkan layanan bagi nasabah melalui pengembangan kemampuan dan akses layanan kesehatan sejak nasabah masih dalam kondisi sehat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pencegahan sekaligus menekan potensi klaim.
Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan data turut menjadi perhatian perusahaan. Musi menyebut, data dapat membantu mengidentifikasi pola klaim berdasarkan wilayah maupun jenis penyakit. Karena itu, perusahaan dapat memahami faktor yang berkontribusi terhadap tingginya biaya klaim.
Pelemahan rupiah pengaruhi biaya medis
Pada kesempatan itu, Musa mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) turut memberikan tekanan terhadap biaya perawatan medis. Sebab, sejumlah komponen dalam layanan kesehatan masih bergantung pada produk dan bahan baku impor.
Musa menambahkan, perusahaan asuransi tidak terlepas dari kenaikan klaim yang dipengaruhi oleh inflasi biaya medis (medical inflation). Kondisi tersebut juga berkaitan dengan perkembangan ekonomi secara makro.
“Memang selalu ada kenaikan yang sejalan dengan medical inflation. Karena kita tidak beroperasi di vacuum, jadi kita pasti sangat terdampak dengan apa yang terjadi secara makro,” ujar Musi saat konferensi pers Zurich Asuransi Indonesia di Jakarta, dikutip Rabu, 4 November 2026.
Menurut Musi, kenaikan biaya medis menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan perusahaan asuransi dalam mengelola klaim. Namun, upaya perusahaan tidak hanya berfokus pada penanganan klaim ketika nasabah jatuh sakit, tetapi juga pada langkah pencegahan sebelum kondisi tersebut terjadi. (Selsha Septifanie Gunawan)