Ilustrasi. Foto: MI.
Editorial MI: Memitigasi Penutupan Selat Hormuz
Media Indonesia • 20 February 2026 06:05
IRAN menutup sementara Selat Hormuz di tengah meningkatnya ketegangan dengan negara adidaya Amerika Serikat. Penutupan itu diklaim sebagai langkah keamanan karena Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC) sedang melaksanakan latihan militer dengan peluru tajam.
Keputusan Iran tersebut mau tidak mau membuat dunia khawatir. Selat Hormuz memiliki peran yang sangat krusial karena menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Perairan ini merupakan salah satu jalur terpenting dalam sistem energi internasional.
Sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan sebagian besar gas alam cair (LNG) melewati selat tersebut setiap hari. Oleh karena itu, harus kita katakan bahwa setiap gangguan langsung terhadap Selat Hormuz pasti berdampak pada pasokan dan harga energi global.
Berkaca dari hal itu, kita mengingatkan pemerintah untuk benar-benar mengantisipasi kemungkinan terburuk atas penutupan Selat Hormuz. Jangan sampai Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbanyak nomor empat dunia, mengalami turbulensi yang sulit teratasi.
Ancaman penutupan sebenarnya bukan kali ini saja. Parlemen Iran pada 22 Juni 2025 lalu pernah menyetujui penutupan Selat Hormuz setelah Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran. Ketika itu, Iran sedang berperang dengan Israel yang merupakan sekutu Amerika Serikat.

Selat Hormuz. Foto: Anadolu.
Perang tersebut hanya berlangsung 12 hari sehingga penutupan Selat Hormuz tidak benar-benar terealisasi. Meski begitu, dunia sudah sempat diselimuti kekhawatiran bakal terjadi dampak mengerikan atas krisis energi yang bisa mengguncang perekonomian global.
Berkaca dari hal itu, pemerintah sebenarnya bisa menjadikan penutupan sementara kali ini sebagai momentum percepatan transisi energi. Dengan begitu, Indonesia tidak terlalu rentan ketika dunia bergejolak, khususnya saat terjadi konflik di Timur Tengah.
Ketika Indonesia mandiri di bidang energi, tentu negeri ini akan berhenti bergantung pada nasib yang ditentukan oleh harga global, konflik jauh di benua lain, atau fluktuasi pasar yang tak pernah mengenal wajah rakyatnya.
Energi adalah nadi peradaban. Ia menyalakan lampu di ruang belajar anak desa, menghidupkan mesin di pabrik kecil, menggerakkan kapal nelayan yang berangkat sebelum fajar. Ketika energi dikuasai secara mandiri, martabat bangsa akan sangat terjaga. Selama ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung, kita juga mendesak pemerintah agar sigap memastikan pengamanan pasokan energi nasional, penguatan cadangan strategis, dan diversifikasi sumber impor.
Negara yang bijak tentunya bisa membaca arah angin sebelum badai tiba. Kewaspadaan hari ini adalah investasi bagi ketenangan esok. Ketika dunia diliputi ketidakpastian, bangsa yang selamat bukan yang paling kuat, melainkan yang paling siap.
Harus kita katakan bahwa kedaulatan energi tidak dibangun saat krisis terjadi, melainkan jauh sebelumnya, yakni melalui keputusan-keputusan strategis yang diambil ketika keadaan masih tampak tenang dan baik-baik saja.
Di saat yang sama, kita berharap agar Presiden Prabowo Subianto yang tengah berada di Amerika Serikat bisa menyelipkan diplomasi tingkat tinggi. Diplomasi yang diharapkan bisa meluluhkan hati Presiden Donald Trump untuk meredakan ketegangan dengan Iran.
Kita berharap pertemuan Prabowo-Trump bisa membuat 'Negeri Paman Sam' tidak bersikap menang-menangan dalam putaran kedua pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di Jenewa, Swiss. Kalau sikap menang-menangan yang dikedepankan, pecahnya perang hanya akan tinggal menghitung hari. Kita sangat tidak berharap itu terjadi.