AS Klaim Arus Minyak di Selat Hormuz Capai Level Tertinggi dalam 6 Bulan

Ilustrasi. Foto: Unplash

AS Klaim Arus Minyak di Selat Hormuz Capai Level Tertinggi dalam 6 Bulan

Eko Nordiansyah • 20 September 2026 09:32

Washington: Pengiriman minyak dan gas alam cair yang melintasi Selat Hormuz mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Menurut Komando Pusat AS (CENTCOM), pengawalan angkatan laut AS dan operasi pembersihan ranjau membuahkan hasil di tengah permusuhan regional yang terus berlanjut.

"Jelas sekali, momentum sedang terbangun," ujar Laksamana Brad Cooper, kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), dalam pernyataan video yang dirilis dikutip dari Investing, Minggu, 20 September 2026.

Cooper mengonfirmasi bahwa jalur transit utama di perairan strategis tersebut telah dibersihkan dari ranjau laut dan sekutu regional di Teluk telah berhasil mengekspor lebih dari 1 miliar barel minyak mentah melalui selat tersebut dalam beberapa bulan terakhir.

Pengumuman ini muncul saat Washington memberlakukan "blokade ketat" terhadap Teheran, yang menurut Cooper telah mengakibatkan Iran mengekspor "nol barel" minyak. Militer AS telah mendukung lebih dari 2.000 pelintasan kapal komersial melalui koordinasi dengan mitra Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), perusahaan asuransi, dan perusahaan pelayaran untuk menstabilkan arus energi global.

Peringatan serangan udara di Riyadh dan eskalasi serangan Houthi

Tonggak pencapaian operasional di Teluk Persia ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan regional. Pada Sabtu dini hari, otoritas Arab Saudi mengeluarkan dua peringatan serangan udara untuk Riyadh—peringatan darurat pagi hari pertama di ibu kota tersebut sejak puncak konflik langsung AS-Iran pada musim semi.

Direktorat Pertahanan Sipil Saudi mengonfirmasi bahwa peringatan tersebut kemudian dicabut. Namun, muncul laporan mengenai dua ledakan keras di ibu kota, diikuti oleh kepulan asap yang terlihat di dekat Bandara Internasional King Khalid yang menyebabkan penundaan operasional. 
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Ancaman keamanan ini muncul setelah berminggu-minggu serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal yang kian intensif oleh kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran, yang menargetkan infrastruktur serta kota-kota di Arab Saudi, termasuk serangan di Taif pada hari Kamis yang menyebabkan satu orang tewas dan beberapa lainnya terluka.

Serangan drone, yang menurut Riyadh dilakukan oleh milisi pro-Teheran di Irak, sebelumnya memaksa penutupan jalur pipa Timur-Barat Arab Saudi, sebuah rute alternatif utama yang menghindari Selat Hormuz.

Pada saat yang sama, kelompok Houthi telah memberlakukan blokade di jalur Laut Merah di sekitar Selat Bab el-Mandeb, tempat arus lalu lintas melambat secara signifikan. Hanya lima kapal tanker bermuatan produk minyak bumi Arab Saudi yang melintasi keluar dari Laut Merah melalui Bab el-Mandeb selama sepekan terakhir, menurut data Kpler.

Tekanan ekonomi dan urgensi politik

Mengelola keamanan energi di Selat Hormuz, yang menangani sekitar 10 juta barel minyak mentah dan produk olahan per hari tetap menjadi prioritas utama pemerintahan Presiden Donald Trump menjelang pemilihan umum sela AS bulan November.

Dengan harga minyak mentah Brent yang berada di kisaran USD104 per barel, naik dari USD88 tiga minggu sebelumnya lonjakan harga bahan bakar di tingkat konsumen telah memperparah kekhawatiran mengenai inflasi domestik. 

Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya mencatat bahwa meskipun pasar energi saat ini lebih ketat dari yang diinginkan, namun kelancaran lalu lintas yang terus berlangsung melalui selat tersebut mencegah pasokan memburuk lebih jauh.

(Eko Nordiansyah)