Pasar Produk Rendah Gula Menjanjikan, Keterjangkauan Harga Jadi Tantangan

Senior Director Go to Market Food Manifacturing Cargill Southeast Asia, Stephanie Sajuti. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan

Pasar Produk Rendah Gula Menjanjikan, Keterjangkauan Harga Jadi Tantangan

Eko Nordiansyah • 17 September 2026 21:23

Jakarta: Permintaan terhadap produk rendah gula membuka peluang pasar baru bagi industri makanan dan minuman. Namun, keterjangkauan harga masih menjadi tantangan bagi produsen untuk menjangkau konsumen yang lebih luas.

Berdasarkan studi konsumen Cargill, sebanyak 54 persen responden Indonesia telah menerapkan pola konsumsi rendah gula atau low sugar eating pattern.

“Berdasarkan studi kita, 54 persen consumer itu mengikuti low sugar eating pattern, jadi berusaha kontrol tingkat gula at least, walaupun tidak harus seperti itu, tapi berusaha mengontrol,” kata Senior Director Go to Market Food Manifacturing Cargill Southeast Asia, Stephanie Sajuti, dalam media gathering Cargill di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, Kamis, 17 September 2026.

Studi tersebut mengambil sampel konsumen di empat kota besar, di antaranya Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Kota besar dipilih karena perkembangan tren pangan biasanya lebih dahulu terlihat di wilayah perkotaan sebelum menjangkau pasar yang lebih luas.

Selain itu, lebih dari 80 persen konsumen bersedia membayar lebih untuk produk yang dinilai lebih sehat.

“Dan lebih dari 80 persen itu willing untuk bayar lebih kalau memang lebih sehat,” kata Senior Director Cargill Southeast Asia Stephanie dalam media gathering Cargill di Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, Kamis, 17 September 2026.

Temuan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi produsen untuk mengembangkan produk rendah gula. Kota besar dapat menjadi pasar awal untuk melihat penerimaan konsumen sebelum perusahaan memperluas distribusi ke wilayah lain.

Keterjangkauan harga menjadi tantangan

Meski konsumen mulai mencari produk yang lebih sehat, harga tetap menjadi faktor penting dalam menentukan penerimaan pasar. Produsen tidak hanya perlu menawarkan manfaat kesehatan, tetapi juga memastikan rasa dan harga produk dapat diterima konsumen.

“Bagaimana caranya mengembangkan produk yang cocok, bisa diterima, cocok secara cerita rasa bisa diterima, dan of course bisa di-afford, karena kami semuanya di negara yang masih berkembang, jadi of course harga dan affordability masih penting,” ujar Stephanie.

Persoalan harga menjadi semakin penting apabila produsen ingin memperluas pasar di luar konsumen perkotaan. Produk rendah gula tidak cukup hanya diminati, tetapi juga harus sesuai dengan kemampuan daya beli masyarakat.
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Menurut Stephanie, produsen juga tidak ingin meluncurkan produk dengan harga yang sulit dijangkau. Kondisi tersebut membuat sejumlah proyek pengembangan produk tidak dapat dilanjutkan ke pasar.

“Karena kita mau buat produk yang enak, dan sehat dan sebagainya, tapi gak ada yang bisa beli juga. Mereka (produsen) juga gak mau gitu pada intinya,”jelas dia.

Pengembangan produk rendah gula membutuhkan proses reformulasi. Sebab, gula tidak hanya berfungsi sebagai pemanis, tetapi juga memengaruhi tekstur, keseimbangan rasa, dan sensasi ketika produk dikonsumsi.

Produsen perlu melakukan riset dan pengujian untuk mencari kombinasi bahan yang dapat mempertahankan kualitas produk meski kandungan gula dikurangi. Proses tersebut turut menjadi bagian dari perhitungan biaya sebelum produk dipasarkan.

“Jadi banyak sekali juga project-project yang istilahnya ingin di launch, tapi gak bisa karena mungkin tidak memenuhi harga yang diinginkan,” lanjut Stephanie.

Tantangan bagi produsen adalah menjaga biaya pengembangan agar tidak mendorong harga jual terlalu tinggi. Apabila harga tidak sesuai dengan kemampuan konsumen, produk yang telah dikembangkan berisiko sulit diterima pasar.

Peluang pasar regional

Tren pengurangan konsumsi gula tidak hanya terjadi di Indonesia. Sejumlah negara Asia Tenggara juga mulai mendorong pengendalian konsumsi gula.

Vietnam mulai menerapkan regulasi terkait gula. Sementara itu, kebijakan serupa telah lebih dahulu berjalan di Malaysia dan Thailand. Tren tersebut juga mulai berkembang di Filipina.

Perkembangan ini membuka peluang bagi produsen untuk memperluas pasar produk rendah gula di kawasan Asia Tenggara. Namun, produk yang ditawarkan tetap perlu disesuaikan dengan selera dan daya beli konsumen di setiap negara.

Dengan demikian, pasar produk rendah gula memiliki potensi untuk terus tumbuh. Namun, pertumbuhannya akan bergantung pada kemampuan produsen menjaga rasa, menekan biaya pengembangan, dan menawarkan harga yang tetap terjangkau. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)