Podium MI: Delusi Kemahakuasaan

Dewan Redaksi Media Group, Jaka Budi Santosa. (MI/Ebet)

Podium MI: Delusi Kemahakuasaan

Media Indonesia • 16 April 2026 05:30

ADA sesuatu yang terasa janggal, juga sangat berbahaya, ketika kekuasaan yang sangat besar berpadu dengan sikap dan perilaku yang kian sulit diterima nalar. Di titik ini, publik dunia kian mempertanyakan apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan kejiwaan Donald Trump?

Kita tahu, Trump ialah presiden negara adidaya, Amerika Serikat. Di tangannya, perekonomian dunia bisa dibuat hitam atau putih. Lewat telunjuknya, militer terkuat di kolong langit bisa membuat dunia bergejolak dalam perang atau penuh kedamaian. Melalui perintahnya, ribuan hulu ledak nuklir dapat mengakhiri kehidupan di bumi ini. Kalau negara sekuat itu dipimpin seseorang yang jiwanya belum tentu sehat, mentalnya barangkali sakit, alangkah riskannya tata dunia ini.

Apakah Trump mengalami gangguan jiwa? Pertanyaan itu sudah lama ada dan tetap ada hingga kini. Malah tanda tanya makin membesar. Dulu, pada 2017 lalu, terbit buku berjudul The Dangerous Case of Donald Trump yang disunting psikiater forensik Bandi X Lee. Isinya esai dari 27 psikiater, psikolog, dan pakar kesehatan mental.

Mereka memperingarkan bahwa perilaku Trump menunjukkan tanda-tanda ketidakstabilan mental yang berbahaya bagi seorang presiden. Ada pula buku Twilight of American Sanity karya Allen Frances dan Fantasyland karya Kurt Andersen. Isinya senada, sama-sama menyoal kejiwaan Trump.

Setelah Trump dilantik menjadi presiden AS, pertanyaan ihwal kejiwaan Trump kembali mengemuka. Bukan hanya bisik-bisik tetangga. Tak sekadar gunjingan di pintu belakang, tapi juga lewat buku. Kali ini karya jurnalis Wichael Wolff dengan judul Fire and Fury: Inside the Trump White House. Buku itu menggambarkan Trump sebagai sosok yang tidak sabar, tak bisa fokus, dan mengoceh tanpa ujung pangkal.

Belakangan, perbincangan perihal kejiwaan Trump seolah menemukan energi tambahan. Keputusannya bersama Israel menyerang Iran kian mengonfirmasi bahwa ada yang salah dalam dirinya. Pernyataan-pernyataan yang kerap mengada-ada, kasar, tidak konsisten, dan sulit diprediksi menebalkan pertanyaan itu.

Semangatnya untuk berkonfrontasi kelewat tinggi. Urusan hubungan antarnegara ia seret ke masalah pribadi. Tak cuma lawan, teman pun jadi sasaran ejekan, hinaan. Presiden Prancis Emmanuel Macron yang pernah ditoyor sang istri, misalnya. Perdana Menteri Inggris Keir Stamer, amsalnya.

Juga NATO, pakta pertahanan Amerika dan negara-negara Eropa, yang ia sebut cuma macan kertas. Gegaranya sama, karena mereka ogah memenuhi permintaan Trump untuk menyerang Iran. Ngambek atau marah sekalipun boleh saja. Namun, kalau ngambek dan marahnya presiden Amerika model Trump jelas amat sulit diterima.

Baca Juga: 

Trump Tolak Minta Maaf Kepada Paus Leo XIV Terkait Kritik Perang Iran


Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Terkini, Trump berkonflik dengan Paus Leo XIV. Awalnya Paus mengkritik perang di Iran. Ia menyebut perang itu dipicu 'delusi kemahakuasaan'. Dalam doa bersama di Basilika Santo Petrus, ia meminta perang segera dihentikan dan jalan damai dikedepankan.

Pernyataan Paus itu sebenarnya bukan hal baru. Pemimpin 1,5 miliar umat Katolik sedunia itu jamak melakukannya. Paus selalu menentang perang dan penindasan oleh siapa pun dan di mana pun. Kalau kemudian Trump tersingggung, marah, kiranya memang ada yang aneh dalam dirinya. Apalagi, ia begitu bernafsu menyerang balik Paus. Ia tak suka karena Paus yang asal AS itu menentang kebijakan AS terhadap Iran. Ia bilang Paus sangat lemah dalam urusan kejahatan dan lainnya.

Konflik antara Trump dan Paus sesungguhnya bukan sekadar perselisihan dua tokoh, melainkan juga benturan dua otoritas besar. Kekuasaan politik versus kewenangan moral. Kritik Paus jelas berangkat dari tradisi panjang gereja Katolik yang menempatkan diri sebagai suara nurani. Ketika kebijakan perang terhadap Iran menimbulkan penderitaan luas dan eskalasi global, Paus tak mungkin diam saja. Kritik itu berada dalam koridor moral universal, bukan serangan personal.

Namun, respons Trump memperlihatkan pola yang berulang. Kritik ia baca sebagai ancaman terhadap dirinya. Seorang presiden yang berjiwa sehat semestinya mampu membedakan antara kritik terhadap kebijakan dan serangan pribadi. Namun, itulah Trump. Siapa pun yang berseberangan pandangan, ia anggap sebagai lawan. Konflik dengan Paus itu menunjukkan kecenderungan yang sangat berbahaya, yakni delegitimasi terhadap suara moral. Apa jadinya dunia kalau moral tak lagi didengar?

Wajar kiranya ketika dalam konferensi pers resmi, minggu lalu, seorang wartawan Gedung Putih mempertanyakan kesehatan mental Trump. Normal rasanya jika sejumlah anggota DPR AS dari Partai Demokrat menyatakan keprihatinan mendalam atas dugaan bahwa Trump menderita demensia yang memengaruhi efektivitas kepemimpinannya.

Demensia ialah penyakit degeneratif yang bersifat progresif akibat kerusakan sel saraf otak. Akibatnya dapat mengakibatkan penurunan fungsi kognitif seperti daya ingat, berpikir, bernalar, dan berbahasa. Mereka mendesak dokter kepresidenan bertindak. Mereka bersuara agar Trump dimakzulkan.

Kejiwaan Trump kiranya amat layak disoal. Apalagi jika benar diagnosis psikolog dari Universitas John Hopkins bahwa Trump sebagai malignant narcissist atau narsisis ganas yang melampaui narsisme umum pada politikus. Dengan kejiwaan seperti itu, Trump saatnya dijauhi. Waktunya negara-negara di dunia membuat jarak dengan Amerika, bukan malah dekat-dekat. Dengan begitu, ancaman delusi kemahakuasaan dapat dikalahkan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)