Cegah Karhutla, BMKG Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca di Riau

Ilustrasi operasi modifikasi cuaca. Foto: BNPB.

Cegah Karhutla, BMKG Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca di Riau

Atalya Puspa • 21 April 2026 10:36

Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengintensifkan operasi modifikasi cuaca (OMC) di Riau. Hal itu dilakukan untuk menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebelum puncak musim kemarau tiba. 

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan pentingnya langkah proaktif dalam mitigasi bencana karhutla melalui intervensi berbasis sains. Ia menyatakan, menyemai awan di masa peralihan musim jauh lebih efektif dibanding menunggu kemarau benar-benar tiba.

"Pelaksanaan OMC ini adalah momentum strategis. Berdasarkan data klimatologi, menyemai awan di masa transisi jauh lebih efektif. Kami berupaya menjaga kelembapan lahan di wilayah-wilayah rawan agar potensi titik panas dapat ditekan secara signifikan," ujar Faisal dikutip dari Media Indonesia, Selasa, 21 April 2026.

Hingga 18 April 2026, tim di lapangan telah menyelesaikan tujuh sortie penerbangan selama 13 jam 19 menit dengan total bahan semai yang ditabur mencapai 5.600 kilogram. OMC difokuskan  difokuskan pada kawasan gambut yang paling rentan terbakar.

Operasi yang berlangsung 14–22 April 2026 ini melibatkan BMKG, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, BNPB, TNI AU, dan Pemerintah Provinsi Riau. Seluruh aktivitas teknis berpusat di Posko OMC Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru.

Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menjelaskan pelaksanaan OMC pada masa peralihan musim merupakan langkah krusial. Pasalnya, OMC di masa perlaihan musim dapat memaksimalkan ketersediaan awan.

"Jika OMC baru dilakukan saat musim kemarau, keberadaan awan akan sulit ditemukan sehingga efektivitasnya menurun. Memanfaatkan masa peralihan untuk pembasahan lahan gambut adalah pendekatan yang sangat strategis untuk mengendalikan karhutla secara permanen," kata Budi.

Ilustrasi petugas menyemai garam dalam operasi modifikasi cuaca (OMC). Foto: Antara.

Riau sendiri telah berstatus siaga darurat karhutla sejak 2 Februari hingga 30 November 2026 berdasarkan Keputusan Gubernur Riau Nomor KTPS 102/11/2026. Sebelum operasi Kemenhut ini, BNPB sudah lebih dahulu menjalankan tiga tahap OMC di provinsi itu sejak status siaga ditetapkan.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan Kemenhut Thomas Nifinluri mengatakan keterlibatan Kemenhut merupakan bentuk kontribusi nyata sebagai salah satu entitas pengendalian bencana.

"Kementerian Kehutanan turut berkontribusi nyata dalam OMC selama sembilan hari ke depan untuk meningkatkan kelembaban lahan melalui pembasahan serta pengisian embung dan cadangan air lainnya," ujar Thomas.

Dukungan penuh juga datang dari TNI AU melalui Lanud Roesmin Nurjadin. Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin Andrie Setiawan menegaskan sinergi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan mitigasi bencana ini.

"Kami mendukung penuh pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca dalam rangka pengendalian karhutla di Riau. Sinergi antar instansi menjadi kunci keberhasilan dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan," kata Andrie.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)