Ilustrasi. Foto: Medcom.id
Kehilangan 92 Ribu Tenaga Kerja di Februari, Ekonomi AS Melempem
Husen Miftahudin • 8 March 2026 10:32
Washington: Biro Statistik Tenaga Kerja Amerika Serikat (AS) melaporkan negara kehilangan 92 ribu pekerjaan pada periode Februari 2026. Ini menjadi penanda potensi kelemahan dalam perekonomian AS.
Mengutip Xinhua, Minggu, 8 Maret 2026, jumlah tenaga kerja di sektor nonpertanian turun sebesar 92 ribu dari bulan sebelumnya, menandai penurunan ketiga kalinya dalam jumlah tenaga kerja selama lima bulan terakhir.
Tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen karena lapangan kerja berkurang di sektor-sektor utama. Industri layanan kesehatan kehilangan 28 ribu pekerjaan, sebagian besar akibat pemogokan di salah satu penyedia asuransi kesehatan besar.
"Saya sudah memperkirakan pasar tenaga kerja akan lesu untuk beberapa waktu. Dan akhirnya hal itu terjadi. Saya tidak memperkirakan akan terjadi penurunan drastis, tetapi saya memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja yang lambat dalam beberapa bulan mendatang," kata Gary Clyde Hufbauer, peneliti senior non-residen di Peterson Institute for International Economics.
Meskipun begitu, menurut Hufbauer terdapat sisi positif bagi perekonomian AS adalah pengembalian pajak dan tarif. Sementara dari sisi negatifnya adalah harga energi yang lebih tinggi.
| Baca juga: Data Ekonomi AS Solid, Wall Street Merangkak Naik |

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Upah pekerja justru naik 0,4%
Pada saat yang sama, upah meningkat lebih dari yang diperkirakan, dengan pendapatan per jam rata-rata naik 0,4 persen dari bulan ke bulan dan 3,8 persen dari tahun ke tahun.
Sektor jasa informasi juga kehilangan pekerjaan akibat pemangkasan terkait kecerdasan buatan, dengan pengurangan 11 ribu posisi. Sektor manufaktur kehilangan 12 ribu pekerjaan.
Laporan ini muncul di tengah sinyal yang beragam mengenai perekonomian. "Kami tidak berpikir ini adalah pertanda memburuknya data lapangan kerja di masa mendatang, tetapi risiko penurunan ekonomi jelas meningkat," kata Thomas Simons, ekonom senior di Jefferies.
The Fed telah memandang pasar tenaga kerja dengan hati-hati, mengamati kondisi dengan saksama setelah serangkaian pemotongan suku bunga moderat.
Sebagian besar pejabat di bank sentral mengambil sikap menunggu dan melihat, mengamati perekonomian dengan cermat untuk menentukan waktu yang tepat untuk memangkas suku bunga.
Sementara itu, para ekonom juga mengamati dampak perang AS di Iran. Jika perang terus meningkat, hal itu dapat menyebabkan lonjakan harga minyak global dan merugikan perekonomian AS.