Puncak Arus Mudik di Malang Diprediksi 2 Gelombang saat Nyepi dan Idulfitri

Penataan parkir dan PKL di kawasan Alun-alun Merdeka Kota Malang, Sabtu sore, 21 Februari 2026. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq

Puncak Arus Mudik di Malang Diprediksi 2 Gelombang saat Nyepi dan Idulfitri

Daviq Umar Al Faruq • 5 March 2026 09:17

Malang: Kepadatan lalu lintas di Kota Malang, Jawa Timur, diprediksi meningkat menjelang Lebaran 2026. Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Malang telah memetakan sejumlah titik rawan macet untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan selama periode mudik dan libur Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah.

Pemetaan dilakukan pada dua kategori utama, yaitu kawasan pusat perdagangan dan jasa serta ruas jalan arteri. Langkah ini disiapkan karena Kota Malang berstatus sebagai kota destinasi sekaligus kota lintasan menuju sejumlah daerah penyangga.

Kepala Dishub Kota Malang, Widjaja Saleh Putra, menyebut pusat keramaian berpotensi menjadi titik kepadatan saat Lebaran. Lonjakan kunjungan biasanya terjadi di pusat belanja dan sentra oleh-oleh.

"Untuk pusat perdagangan dan jasa, di antaranya kawasan MOG, Pasar Besar, Ramayana, Trend, pusat oleh-oleh, serta Matos. Sedangkan ruas jalan rawan meliputi Jalan Raden Intan, Gatot Subroto, kawasan Kacuk, Ahmad Yani, Borobudur hingga sekitar MCC, sampai arah Sengkaling," beber Widjaja, Kamis, 5 Maret 2026.

Selain kawasan perdagangan, sejumlah ruas jalan utama juga diprediksi mengalami peningkatan volume kendaraan. Arus kendaraan dari dan menuju Kota Batu, Kabupaten Malang, hingga arah Blitar diperkirakan akan bertemu di titik-titik tersebut.
 


"Kota Malang ini kota destinasi sekaligus kota lintasan, baik menuju Kota Batu, Kabupaten Malang, maupun arah Blitar. Jadi rekayasanya sangat tergantung situasi," jelas Widjaja.

Secara nasional, pergerakan masyarakat saat Lebaran 2026 diperkirakan mencapai 143,6 juta orang. Meski angka itu lebih rendah dibanding prediksi tahun sebelumnya, arus kendaraan tetap berpotensi memicu kepadatan di daerah tujuan wisata.

"Untuk Kota Malang, diperkirakan terjadi penurunan mobilitas keluar-masuk sekitar 1,75 persen. Penurunan ini dipengaruhi sejumlah faktor, di antaranya musim penghujan serta kecenderungan masyarakat menghemat biaya perjalanan," terang Widjaja.

Dishub memprediksi puncak arus mudik terjadi dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 13–15 Maret dan gelombang kedua pada 18–19 Maret karena beririsan dengan perayaan Nyepi dan Idulfitri.

"Ada dua gelombang puncak arus mudik, karena ada dua momen besar, yakni Nyepi dan Idulfitri. Sementara untuk arus balik, masih menunggu perkembangan timeline lebih lanjut," ujar Widjaja.


Ilustrasi Balai Kota Malang. Metrotvnews.com/Daviq Umar Al Faruq

Rekayasa lalu lintas akan diberlakukan secara situasional sesuai kondisi di lapangan. Penutupan jalan total maupun sistem contraflow belum menjadi kebijakan tetap dan hanya akan diterapkan jika kepadatan tak terkendali.

Di sisi lain, Dishub juga merampungkan penataan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Jalan Merdeka Selatan. Skema tersebut telah melalui tahap uji coba dan tetap membuka akses kendaraan tanpa penutupan penuh.

"Untuk hari Sabtu, PKL ditempatkan di sisi utara atau merapat ke Alun-alun. Sedangkan parkir berada di depan Kantor Pos," seru Widjaja.

Ia menuturkan, penataan PKL ke depan perlu dilakukan lebih masif, termasuk mendorong kolaborasi dengan PKL di kawasan Jalan Agus Salim dan Jalan Merdeka Barat.

"Meski begitu, secara umum penataan arus lalu lintas dan PKL sudah bisa difasilitasi. Tinggal ditingkatkan dari sisi layanan, komoditas, serta kerapian," ungkap Widjaja.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)