Suhu Capai Minus 1 Derajat, Fenomena Embun Es Kembali Muncul di Dieng

Fenomena bedinding dan embun es mulai terlihat di Dataran Tinggi Dieng. (MI)

Suhu Capai Minus 1 Derajat, Fenomena Embun Es Kembali Muncul di Dieng

Akhmad Safuan • 9 June 2026 12:15

Wonosobo: Fenomena embun beku (es) dan udara dingin (bedinding) kembali terjadi di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah. Suhu udara di kawasan tersebut terasa lebih dingin dibanding biasanya, berkisar 14 hingga 15 derajat celsius bahkan pada malam hari suhu terdeteksi minus 1 hingga 5 derajat celsius. 

Pemantauan Media Indonesia, Selasa, 9 Juni 2026, dalam beberapa hari terakhir memasuki musim kemarau, pada dini hari hingga pagi fenomena embun beku mulai terlihat menutupi perkebunan di sejumlah titik di Kawasan Dataran Tinggi Dieng. petani sayuran mulai siaga mengantisipasi kerusakan budidaya tanaman dan wisatawan berdatangan.

"Suhu udara cukup dingin, orang sini menyebut bedinding," kata Sunaryo, seorang petani di Dieng.

Sunaryo mengatakan para petani harus memanen sayurnya lebih cepat akibat mulai munculnya embun es. Pasalnya, embun beku bisa mengakibatkan tanaman mati dan mengalami gagal panen.

Fenomena bedinding dan embun es mulai terlihat di Dataran Tinggi Dieng. (MI)

Hal serupa juga diungkapkan Wahyuni, warga Dieng lainnya. Menurut dia bedinding dan mulai munculnya embun es dirasakan dalam beberapa hari terakhir. Meskipun, kata dia, pada siang hingga sore hari cuaca berawan dan tidak terlalu terasa dingin.

"Biasanya udara sangat dingin pada malam hingga pagi dan mulai muncul embus es terjadi saat memasuki kemarau," jelas dia.

Udara dingin juga terasa di kawasan pegunungan dan dataran tinggi lainnya yang berada di atas 2.000 meter di atas permukaan laut (mdpl) di Jawa Tengah. Namun kondisi dingin tidak se-ekstrem di Kawasan Dataran Tinggi Dieng tersebut, 

Embun Es di Dieng Berulang Setiap Menjelang Kemarau

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam laman resminya menjelaskan fenomena embun es di Dataran Tinggi Dieng terbentuk ketika suhu permukaan turun hingga mendekati atau berada di bawah titik beku, sehingga embun berubah menjadi kristal es. Fenomena ini umumnya terjadi pada periode musim kemarau Juni hingga Oktober.

Fenomena embun es berlangsung pada periode waktu terbatas,  saat musim kemarau (Juni-Oktober), meskipun  Indonesia merupakan negara tropis dengan iklim hangat (warm climate), hal itu  dapat terjadi pada wilayah dataran tinggi, jika  beberapa kondisi cuaca terpenuhi seperti kondisi langit cerah tanpa tutupan awan pada malam hari dan suhu dibawah titik beku.

Embun es di Dieng merupakan kejadian yang berulang hampir setiap musim kemarau, yakni dipengaruhi kondisi cuaca lokal dan untuk saat ini kemunculannya juga dapat dipengaruhi faktor iklim global seperti El Nino serta  La Nina. Dalam kajian BMKG fenomena embun es memiliki dua sisi berbeda yaitu daya tarik wisata yang ditunggu wisatawan, namun di sisi lain merusak tanaman pertanian. Analis Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Zauyik mengatakan sejumlah indikator atmosfer menunjukkan kemarau mulai berkembang di Jawa Tengah, hal itu terlihat dari semakin lebarnya perbedaan suhu udara antara siang dan malam hari.

"Perbedaan siang dan malam sudah cukup jauh sebagai tanda musim kemarau sudah berlangsung," tambahnya.

Menurut Zauyik pemantauan satelit cuaca Himawari-9 juga memperlihatkan kondisi atmosfer yang semakin kering, sehingga warga diminta waspada fenomena tersebut berkaitan dengan menguatnya angin timuran atau Monsun Australia yang mulai mendominasi wilayah Indonesia bagian selatan dan  Pulau Jawa. 

"Jadi kalau dipantau dari citra satelit, penjalaran udara lembap kering dari wilayah timur ke barat (NTT-NTB-Bali-Jawa) dan pertengahan hingga akhir Juni ini, potensi suhu udara akan semakin terasa perbedaannya antara siang dan malam yang terpaut jauh dalam rentang suhunya hingga berpotensi Bedinding," ujar Zauyik.

(Lukman Diah Sari)