Ilustrasi Pexels
Daging Kurban Bukan Penyebab Asam Urat dan Kolesterol? Ini Penjelasannya
Muhamad Marup • 29 May 2026 15:35
Jakarta: Euforia Iduladha kerap dilalui dengan konsumsi daging kurban bersama keluarga dan teman di rumah. Tak jarang konsumsi daging saat Iduladha melebihi batas yang ditentukan.
Di balik kemeriahan itu, penyakit kolesterol dan asam urat menjadi ancaman. Dosen Teknologi Pangan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Ayu Diawi Ismayawati, menegaskan bahwa sumber penyakit sejatinya bukan berasal dari daging kurban, melainkan kebiasaan keliru masyarakat dalam mengolah, memporsikan, dan menyimpannya.
"Daging kurban sebenarnya tidak perlu ditakuti, tetapi harus diolah dan dikonsumsi dengan bijak. Yang sering jadi masalah itu bukan dagingnya, melainkan pola konsumsi masyarakat yang berlebihan dan cara memasaknya yang terlalu banyak lemak," ujar Ayu, mengutip laman UMM, Jumat, 29 Mei 2026.
Ayu menambahkan risiko bertambah jika hidangan didominasi oleh jeroan bersantan kental. Menurutnya, hal tersebut mampu memicu lonjakan Low-Density Lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dan nyeri persendian akibat kristal asam urat.
"Bagian yang paling perlu dibatasi adalah jeroan seperti hati, paru, limpa, usus, hingga otak karena kandungan purinnya jauh lebih tinggi," jelasnya.
Tips pengolahan
Ayu menyarankan masyarakat menerapkan teknik trimming atau membuang lemak putih pada daging kurban segar sebelum dimasak. Langkah tersebut berguna mencegah risiko kesehatan.Pakar teknologi pangan itu juga merekomendasikan metode perebusan awal. Kuah rebusan pertama sebaiknya dibuang agar kadar purin menurun secara signifikan.
"Menjadikan opsi masakan seperti sup bening jauh lebih aman untuk lambung," tambahnya.
Ayu menuturkan, jika membuat gulai atau tongseng, santan jangan terlalu pekat. Lemak yang mengambang di permukaan juga bisa diambil dengan sendok atau menggunakan es batu setelah masakan agak dingin.
"Teknik tumis air juga bisa jadi alternatif sehat dibandingkan menumis dengan banyak minyak," tuturnya.
Ilustrasi Pexels
Teknik penyimpanan
Ia menekankan, kesalahan fatal yang sering terjadi di tingkat rumah tangga adalah mencairkan daging kurban beku, memotong sebagian, lalu mengembalikannya ke mesin pendingin. Daging seharusnya langsung dibagi dalam kantong-kantong kecil untuk takaran sekali masak sebelum masuk ke freezer bersuhu minus 18 derajat Celsius.Proses pencairannya pun harus diletakkan di chiller, bukan dibiarkan mencair pada suhu ruang. Siklus pencairan dan pembekuan ulang sangat tidak disarankan karena mempercepat penurunan mutu dan meningkatkan risiko pertumbuhan mikroba.
"Setiap kemasan sebaiknya diberi label tanggal penyimpanan agar kualitasnya lebih mudah dipantau," tegasnya.
Ayu mengingatkan orang dewasa sehat dianjurkan cukup membatasi konsumsi daging matang di kisaran 50 hingga 100 gram per hari. Keseimbangan metabolisme wajib dijaga melalui pendampingan porsi sayuran tinggi serat, buah-buahan segar, serta asupan air putih untuk menahan laju penyerapan lemak jenuh di saluran cerna.
"Prinsip amannya adalah makan secukupnya, pilih daging tanpa lemak, batasi jeroan, kurangi santan dan minyak berlebih, simpan daging dengan benar, serta imbangi dengan sayur, buah, dan air putih yang cukup," ucapnya.