Sinergi Indonesia-Tiongkok Perkuat Stabilitas Kawasan dan Sentralitas ASEAN

Wakil Direktur Departemen Studi Bahasa Inggris dan Internasional China Foreign Affairs University, Yang Qiang, dalam sebuah acara di Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026. (Metrotvnews.com)

Sinergi Indonesia-Tiongkok Perkuat Stabilitas Kawasan dan Sentralitas ASEAN

Willy Haryono • 24 June 2026 13:40

Jakarta: Kemitraan strategis komprehensif antara Indonesia dan Tiongkok dinilai telah berkembang menjadi salah satu pilar penting stabilitas kawasan Asia Tenggara sekaligus memperkuat posisi sentral ASEAN dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

Pandangan tersebut disampaikan Wakil Direktur Departemen Studi Bahasa Inggris dan Internasional China Foreign Affairs University, Yang Qiang, dalam acara China–Indonesia Think Tank and Media Forum di Jakarta, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurut Yang, tahun 2026 menjadi momentum penting karena menandai tahun terakhir pelaksanaan rencana aksi lima tahunan kemitraan strategis komprehensif antara kedua negara.

"Kerja sama politik, ekonomi, dan hubungan antarmasyarakat antara Tiongkok dan Indonesia telah mencapai tingkat perkembangan yang baru dalam beberapa tahun terakhir," ujar Yang.

Whoosh Jadi Simbol Kerja Sama

Yang menyoroti keberhasilan operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung atau Whoosh sebagai salah satu simbol nyata kerja sama kedua negara.

Menurutnya, proyek tersebut berhasil memangkas waktu perjalanan dari sekitar 3,5 jam menjadi hanya 46 menit serta memberikan dampak signifikan terhadap konektivitas dan aktivitas ekonomi.

Ia menyebut proyek infrastruktur tersebut sebagai contoh konkret kolaborasi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Selain sektor infrastruktur, Yang juga menilai kerja sama ekonomi digital dan investasi terus berkembang seiring meningkatnya integrasi ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok.

Yang mengungkapkan bahwa implementasi Protokol Peningkatan Kawasan Perdagangan Bebas ASEAN-Tiongkok atau ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 menjadi salah satu faktor yang memperkuat hubungan ekonomi kawasan.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, perdagangan antara Tiongkok dan ASEAN pada empat bulan pertama tahun ini mencapai 2,75 triliun yuan atau meningkat 15,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, perdagangan bilateral Tiongkok dan Indonesia tercatat mencapai 457,83 miliar yuan atau tumbuh 27,8 persen secara tahunan.

Menurut Yang, pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin eratnya keterkaitan ekonomi kedua negara.

Keselarasan Visi Pembangunan

Ia menilai kemajuan hubungan bilateral tidak terlepas dari adanya kesamaan visi pembangunan antara konsep modernisasi China dan visi Indonesia Emas 2045.

Kedua negara, kata Yang, sama-sama menempatkan peningkatan kesejahteraan masyarakat dan keadilan sosial sebagai prioritas pembangunan.

"Keberhasilan modernisasi Tiongkok menunjukkan bahwa tidak hanya ada satu jalan menuju modernisasi. Setiap negara memiliki jalurnya sendiri sesuai kondisi nasional masing-masing," katanya.

Ia menegaskan kerja sama Indonesia-Tiongkok bukanlah hubungan yang bersifat satu arah, melainkan bentuk kemitraan yang saling melengkapi dan memberikan manfaat bersama.

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, konflik geopolitik, dan tren proteksionisme ekonomi, Yang menilai kerja sama Indonesia dan Tiongkok berperan sebagai faktor penyeimbang yang mendukung stabilitas kawasan.

Menurutnya, kedua negara memiliki kepentingan yang sama dalam menjaga sistem multilateral dan memperkuat arsitektur kerja sama regional yang berpusat pada ASEAN.

Ia juga menyoroti pentingnya implementasi Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional atau Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) sebagai instrumen untuk memperkuat integrasi ekonomi kawasan.

"Dukungan Tiongkok terhadap sentralitas ASEAN dalam arsitektur kerja sama regional merupakan posisi yang konsisten dan jelas," ujarnya.

Tiga Pilar Kemitraan

Menutup pemaparannya, Yang menyebut terdapat tiga fondasi utama yang perlu terus dijaga dalam hubungan Indonesia dan Tiongkok. Pertama, komitmen bersama untuk mendorong reformasi tata kelola global yang lebih inklusif.

Kedua, penghormatan terhadap prinsip independensi dan otonomi strategis tanpa campur tangan pihak luar.

Ketiga, pelestarian nilai-nilai historis yang menjadi fondasi hubungan kedua negara, termasuk Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai dan Semangat Bandung.

Menurut Yang, prinsip-prinsip tersebut tetap relevan untuk memperkuat kemitraan Indonesia-Tiongkok sekaligus menjaga perdamaian dan kemakmuran kawasan di tengah perubahan global yang terus berlangsung. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Kerja Sama Antarmedia Indonesia-Tiongkok Perlu Diperluas Agar Informasi Valid

(Willy Haryono)