Paus Leo XIV saat berada di Basilika Santo Petrus, Vatikan, Sabtu, 11 April 2026. (Vatican Media)
Paus Leo XIV Desak Perang Iran Segera Diakhiri, Singgung 'Delusi Kemahakuasaan'
Dimas Chairullah • 12 April 2026 15:55
Vatikan: Pemimpin Gereja Katolik Roma, Paus Leo XIV, melontarkan kecaman tegas terhadap "delusi kemahakuasaan" yang dinilainya telah memicu perang Amerika Serikat (AS) dan Israel di Iran.
Paus menuntut para pemimpin politik untuk segera menghentikan peperangan dan kembali ke meja perundingan.
Dikutip dari AsiaOne, Minggu, 12 April 2026, kecaman tersebut disampaikan Paus Leo XIV saat memimpin kebaktian doa malam di Basilika Santo Petrus pada Sabtu kemarin. Momen ini bertepatan dengan dimulainya negosiasi tatap muka antara delegasi AS dan Iran di Pakistan, di tengah status gencatan senjata yang rapuh.
Sebagai Paus pertama kelahiran AS dalam sejarah, Paus Leo tidak secara spesifik menyebut nama negaranya atau Presiden AS Donald Trump dalam doanya. Namun, pesan dan nada bicaranya diyakini kuat ditujukan kepada para pejabat AS yang belakangan kerap membanggakan keunggulan militer dan membenarkan perang dengan dalih agama.
"Cukup sudah pemujaan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup sudah pamer kekuasaan! Cukup sudah perang!" tegas Paus Leo XIV.
Ibadah tersebut turut dihadiri oleh Uskup Agung Teheran, Kardinal Dominique Joseph Mathieu dari Belgia. Sementara itu, pihak AS diwakili dalam korps diplomatik oleh Wakil Kepala Misinya, Laura Hochla.
Pada minggu-minggu awal konflik, Paus yang lahir di Chicago ini awalnya enggan mengutuk kekerasan secara terbuka. Ia membatasi komentarnya pada seruan lembut untuk perdamaian. Namun, nada kritiknya meningkat tajam sejak perayaan Minggu Palma.
Pekan ini, Paus bahkan menyebut ancaman Presiden Trump yang ingin memusnahkan peradaban Iran sebagai sesuatu yang "benar-benar tidak dapat diterima."
Delusi Kemahakuasaan
Dalam doanya, Paus Leo mengajak semua orang yang berkehendak baik untuk mendoakan perdamaian. Ia menyebut doa sebagai jalan untuk memutus "siklus kejahatan yang bersifat iblis" guna membangun dunia tanpa pedang, drone tempur, atau keuntungan yang tidak adil."Di sinilah kita menemukan benteng melawan delusi kemahakuasaan yang mengelilingi kita dan semakin tidak terduga serta agresif. Bahkan Nama Tuhan yang suci, Tuhan kehidupan, pun diseret ke dalam wacana kematian," ungkap Paus.
Pernyataan ini menyoroti sikap sejumlah pejabat AS yang menggunakan agama untuk membenarkan tindakan militer. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth, misalnya, secara terbuka menggunakan keyakinan Kristennya untuk menggambarkan AS yang tengah berusaha menaklukkan musuh-musuhnya.
Paus Leo sebelumnya menegaskan bahwa Tuhan tidak pernah memberkati perang apa pun, terlebih bagi mereka yang menjatuhkan bom.
Dalam ibadah di Vatikan, Paus memimpin ibadah tersebut sembari duduk di singgasana putih di sisi altar. Ia mengenakan jubah merah resmi dan stola liturgi sambil terus menggenggam rosario.
Selain konflik di Iran, Vatikan juga menyatakan keprihatinan mendalam atas dampak buruk dari eskalasi perang Israel melawan kelompok Hizbullah di Lebanon, khususnya menyoroti penderitaan komunitas Kristen di wilayah selatan negara tersebut.
Baca juga: Perundingan dengan Iran Berakhir Buntu, Delegasi AS Tinggalkan Pakistan