Trump Cari Ribut dengan Paus Leo XIV soal Iran, Mengaku Bukan Penggemarnya

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: The New York Times

Trump Cari Ribut dengan Paus Leo XIV soal Iran, Mengaku Bukan Penggemarnya

Muhammad Reyhansyah • 13 April 2026 12:12

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan, dirinya “bukan penggemar” Paus Leo XIV setelah pemimpin umat Katolik dunia itu menyerukan penghentian kekerasan.

Berbicara kepada wartawan di Joint Base Andrews, Maryland, Trump menyebut Paus Leo sebagai sosok yang terlalu liberal dan tidak memiliki pandangan tegas dalam menangani kejahatan.

"Saya bukan penggemar Paus Leo. Dia orang yang sangat liberal, dan dia adalah seseorang yang tidak percaya pada upaya menghentikan kejahatan," ujar Trump, dikutip dari Gulf News, Senin, 13 April 2026.

Ia juga menuduh Paus “bermain-main dengan negara yang ingin memiliki senjata nuklir,” merujuk pada Iran.

Sehari sebelumnya, Paus Leo menyampaikan seruan publik untuk mengakhiri konflik. Dalam misa di Basilika Santo Petrus, ia mengatakan: “Cukup dengan penyembahan terhadap diri sendiri dan uang! Cukup dengan pamer kekuasaan! Cukup dengan perang!”

Trump kemudian kembali menegaskan sikapnya melalui unggahan di Truth Social. 

“Saya tidak menginginkan Paus yang menganggap tidak masalah bagi Iran memiliki senjata nuklir,” tulisnya.

Meski demikian, Washington dan Vatikan sebelumnya membantah adanya keretakan hubungan di antara keduanya.

Bantahan Vatikan

Pada Jumat, seorang pejabat Vatikan menepis laporan yang menyebut adanya teguran keras dari pejabat Pentagon kepada utusan gereja di Amerika Serikat.

Laporan tersebut mengklaim bahwa Kardinal Christophe Pierre dipanggil ke Pentagon dan mendapat kritik tajam dari Wakil Menteri Pertahanan untuk Kebijakan, Elbridge Colby. Dalam pertemuan itu, pejabat militer AS disebut menyatakan bahwa negaranya memiliki kekuatan untuk bertindak sesuka hati dan Gereja seharusnya berpihak pada Washington.

Namun, juru bicara Vatikan Matteo Bruni menegaskan bahwa laporan tersebut tidak sesuai dengan fakta. Ia menyatakan, “narasi yang disampaikan oleh sejumlah media terkait pertemuan tersebut sama sekali tidak mencerminkan kebenaran.”

Kedua pihak bersikeras bahwa pertemuan itu berlangsung secara baik. Meski demikian, hubungan antara Takhta Suci dan Gedung Putih memang diwarnai perbedaan pandangan, terutama terkait kebijakan deportasi massal pemerintahan Trump yang disebut Paus sebagai “tidak manusiawi”, serta penggunaan kekuatan militer di Timur Tengah dan Venezuela.

Ketegangan juga meningkat setelah Trump melontarkan ancaman keras terhadap Iran pada Selasa lalu dengan mengatakan, “Satu peradaban akan mati malam ini, tidak akan pernah kembali lagi.” Pernyataan itu dikritik Paus sebagai “benar-benar tidak dapat diterima” dan ia mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan.

Sebelumnya, Paus Leo sempat menyambut kabar gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran sebagai “tanda harapan nyata.”

Namun, upaya dialog terbaru antara Washington dan Teheran yang digelar di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa hasil. Wakil Presiden AS JD Vance menyatakan bahwa pemerintah telah menyampaikan “penawaran terakhir dan terbaiknya” setelah perundingan panjang tersebut.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)