Iran: Jari Kami Masih Berada di Pelatuk

Ilustrasi Anadolu

Iran: Jari Kami Masih Berada di Pelatuk

Fajar Nugraha • 9 April 2026 15:04

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan peringatan keras bahwa setiap bentuk pelanggaran terhadap gencatan senjata yang disepakati dengan Amerika Serikat (AS) selama dua minggu.

Bagi Iran, setiap pelanggaran oleh pihak agresor akan memicu respons langsung dengan kekuatan penuh. Komandan Dirgantara IRGC, Brigadir Jenderal Seyyed Majid Mousavi, menegaskan posisi militer Iran melalui sebuah pesan di platform X.

"Amerika Serikat dan Israel telah mengalami dan menyaksikan sendiri bahwa tangan kami sedang berada di atas pelatuk," tulis Mousavi, seperti dikutip Press TV, Kamis, 9 April 2026.

Ia menambahkan bahwa jika musuh melakukan kesalahan sekecil apa pun, hal itu akan dibalas dengan kekuatan penuh.

Senada dengan hal tersebut, Komandan Pasukan Angkatan Laut IRGC juga menegaskan kembali peringatan serupa melalui media sosial. Ia mengatakan bahwa pihak agresor telah menyaksikan kesiapan angkatan bersenjata Iran dalam merespons setiap pelanggaran gencatan senjata.

Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada Selasa malam setelah terlibat dalam perang selama 40 hari yang memicu serangan rudal dan pesawat nirawak tanpa henti oleh Angkatan Bersenjata Iran.

Namun, hanya berselang beberapa jam setelah pengumuman gencatan senjata, IRGC melaporkan bahwa pasukannya telah mencegat dan menghancurkan sebuah drone penyusup di langit provinsi Fars. Selain itu, sebuah kilang minyak di Pulau Lavan juga dilaporkan menjadi sasaran serangan pasca-kesepakatan tersebut.

Dalam pernyataan sebelumnya, IRGC telah memperingatkan bahwa setiap masuknya pesawat Amerika Serikat maupun Israel ke wilayah udara Iran, bahkan tanpa melakukan tindakan militer sekalipun, merupakan pelanggaran gencatan senjata yang akan memicu respons tegas. Peringatan ini muncul mengingat intensitas konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Sejak AS dan Israel memulai agresi mereka terhadap Iran pada 28 Februari 2026, IRGC mengeklaim telah meluncurkan lebih dari 100 gelombang operasi rudal dan pesawat nirawak terhadap target-target utama kedua negara tersebut.

Serangan balasan yang merupakan bagian dari Operasi True Promise 4 ini dilaporkan telah memaksa ratusan tentara AS keluar dari kawasan dan menyebabkan kerusakan aset senilai miliaran dolar di negara-negara Teluk Persia.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)