Iran Siap Izinkan Melintas Selat Hormuz Tapi Minta Negara Putus Hubungan dengan AS dan Israel

Selat Hormuz memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Foto: Anadolu

Iran Siap Izinkan Melintas Selat Hormuz Tapi Minta Negara Putus Hubungan dengan AS dan Israel

Fajar Nugraha • 10 March 2026 13:51

Teheran: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan negara Eropa atau Arab dapat melintasi Selat Hormuz tanpa hambatan jika memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat dan Israel.

Laporan televisi pemerintah Iran Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB) menyebut kebijakan itu akan mulai berlaku pada hari yang sama. IRGC menyatakan negara yang memutus hubungan diplomatik dengan Washington dan Tel Aviv akan mendapat kebebasan penuh melintasi jalur laut strategis tersebut.

“Negara-negara tersebut akan memiliki hak dan kebebasan penuh untuk melintas di jalur air strategis itu jika mereka memutus hubungan diplomatik dengan Israel dan Amerika Serikat,” tulis The Guardian mengutip pernyataan IRGC.

Saat ini ratusan kapal masih berada di kedua sisi Selat Hormuz sambil menunggu kejelasan situasi pelayaran. Jalur tersebut sangat penting karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia biasanya melewati wilayah itu.

Ketegangan meningkat setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari. Sebagai balasan, Teheran melakukan serangan ke sejumlah negara di Timur Tengah.

Sejak 9 Maret, lalu lintas kapal di Selat Hormuz dilaporkan turun sekitar 90 persen sehingga berdampak pada perdagangan global. Harga minyak Brent sempat melampaui 115 dolar AS per barel sebelum kembali turun setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan perang dengan Iran mendekati akhir.

Meski demikian, jalur pelayaran di Selat Hormuz masih ditutup untuk sementara. Presiden Prancis Emmanuel Macron sebelumnya menyatakan negaranya akan mengerahkan kapal angkatan laut untuk mengawal kapal kontainer dan tanker minyak di sekitar selat tersebut.

IRGC tunggu pasukan AS

IRGC menyatakan bahwa mereka menunggu kehadiran pasukan Amerika Serikat yang berencana mengawal kapal-kapal melalui Selat Hormuz. Juru bicara IRGC, Ali Mohammad Naini, mengatakan pihaknya mencermati rencana Angkatan Laut AS.

“Kami menunggu kehadiran mereka,” kata Naini, setelah Menteri Energi AS sebelumnya menyatakan bahwa Angkatan Laut Amerika sedang mempersiapkan pengawalan kapal melalui selat itu “segera setelah situasinya memungkinkan.”

Ia juga memperingatkan Washington agar mempertimbangkan pengalaman masa lalu sebelum mengambil keputusan.

“Kami merekomendasikan agar sebelum mengambil keputusan apa pun, Amerika mengingat kebakaran supertanker Amerika Bridgeton pada 1987 dan kapal tanker minyak yang baru-baru ini menjadi sasaran,” ujar Naini seperti dikutip kantor berita Fars.

Dikenal sebagai salah satu jalur laut paling strategis di dunia, Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman yang kemudian menuju Laut Arab dan Samudra Hindia.

Banyak pihak mempertanyakan siapa sebenarnya pemilik Selat Hormuz. Pertanyaan ini sering muncul ketika ketegangan geopolitik meningkat di kawasan Teluk Persia. Namun, status wilayah tersebut tidak berada di bawah kepemilikan satu negara saja, melainkan diatur oleh hukum laut internasional.

Dalam hukum internasional, Selat Hormuz dikategorikan sebagai selat internasional. Artinya, jalur tersebut digunakan untuk pelayaran global dan terbuka bagi kapal dari berbagai negara.

Kapal komersial maupun militer memiliki hak untuk melintas selama perjalanan dilakukan secara damai dan tidak mengancam keamanan wilayah sekitar. 

Kapal yang melintasi Selat Hormuz biasanya melewati perairan teritorial Iran dan Oman. Namun, aturan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) memberikan hak transit passage, yaitu hak bagi kapal untuk melintas secara terus menerus melalui selat internasional tanpa hambatan. 

Status tersebut membuat Selat Hormuz menjadi jalur laut yang tidak dapat diklaim sepenuhnya oleh satu negara. Penutupan sepihak terhadap selat ini berpotensi melanggar hukum internasional dan memicu konflik global.

Jalur Vital Perdagangan Energi

Selain status hukumnya yang unik, Selat Hormuz juga memiliki peran penting dalam perdagangan energi dunia. Banyak negara penghasil minyak di kawasan Teluk Persia mengekspor energi melalui jalur ini.

Dilansir dari media The Guardian, sekitar seperlima pasokan minyak dunia dikirim melalui Selat Hormuz setiap hari. Jalur ini menjadi rute utama ekspor minyak dari negara seperti Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Uni Emirat Arab ke berbagai pasar internasional. 

Karena perannya yang sangat vital, setiap gangguan di Selat Hormuz dapat memengaruhi harga energi global. Ketegangan politik atau konflik militer di kawasan tersebut sering menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia. 

Lebar selat ini sekitar 33 kilometer di titik tersempit, dengan jalur pelayaran kapal tanker yang jauh lebih sempit. Kondisi tersebut membuat Selat Hormuz sangat sensitif terhadap gangguan keamanan maupun aktivitas militer. 

(Keysa Qanita)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)