Podium MI: Silaturahim yang Menyejahterakan

Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet

Podium MI: Silaturahim yang Menyejahterakan

Abdul Kohar • 16 March 2026 05:47

SAYA tergolong orang yang bersyukur karena negeri ini punya tradisi mudik Lebaran. Mengapa? Karena mudik memberikan denyut yang berbeda dalam nadi bangsa ini di setiap kali Ramadan mendekati garis finis.

Mudik menjadi sebuah fenomena kolosal yang tak sekadar soal rindu, tapi juga soal redistribusi kemakmuran yang bergerak masif dari pusat-pusat beton menuju ke jantung-jantung desa. Bayangkan, separuh penduduk Indonesia berarak beriringan menuju kampung halaman.

Tahun ini, skalanya bukan lagi sekadar ramai, melainkan juga menakjubkan, yakni lebih dari 144 juta manusia yang bergerak serentak itu. Bayangkan, lebih dari separuh populasi negeri ini (data terbaru dari Dukcapil Kemendagri, jumlah penduduk Indonesia 288 juta jiwa) sedang melakukan eksodus kultural.

Namun, lihatlah di balik debu jalanan dan kemacetan tol, ada angka yang mencengangkan. Ada sekitat Rp190 triliun perputaran uang selama mudik Lebaran tahun ini. Itu bukan angka main-main. Itu ialah 'mesin ekonomi strategis' yang bekerja secara organik, tanpa perlu instruksi birokrasi yang berbelit-belit.

Ia sudah menjelma desentralisasi dompet secara organik. Selama ini, kita bicara tentang pemerataan pembangunan seolah itu ialah beban APBN semata. Padahal, melalui mudik, para perantau sedang melakukan 'desentralisasi dompet' tersebut.

Uang yang setahun penuh terkumpul di Jakarta, Surabaya, atau Batam tumpah ruah ke pasar-pasar tradisional di pelosok Jawa, warung kopi di Sumatra, hingga bengkel kecil di Sulawesi.

Logikanya sederhana, uang berputar sebanyak Rp190 triliun itu ialah stimulus instan bagi UMKM di daerah. Konsumsi rumah tangga melesat dan daya beli masyarakat desa yang biasanya stagnan tiba-tiba mendapat suntikan oksigen yang segar.

Namun, mereduksi mudik sebatas angka nominal tentu ialah sebuah kesempitan berpikir. Mudik ialah transfer pengetahuan dan jejaring. Ia bukan sekadar mesin ekonomi, melainkan juga transfer literasi.

Perantau pulang membawa informasi pendidikan. Mereka bercerita tentang beasiswa, kursus keterampilan, dan akses dunia digital yang mungkin selama ini hanya jadi mitos di kampung.


Ilustrasi mudik. Dok. Metrotvnews.com

Baca Juga: 

Hari Terakhir Diskon Tarif Tol 30% untuk Arus Mudik, Berlaku hingga Pukul 24.00 WIB

Di teras-teras rumah saat Lebaran, terjadi networking yang lebih cair daripada di ruang rapat SCBD, Sudirman, Thamrin. Ide bisnis baru muncul, kemitraan dibentuk, dan peluang kerja dibuka. Mereka membawa standar baru tentang kemajuan. Bukan untuk pamer, melainkan untuk memicu semangat membangun kampung halaman agar tak kalah dengan hiruk-pikuk kota.

Kita harus jujur, mudik ialah silaturahim akbar yang merupakan modal sosial terkuat bangsa ini. Di saat sekat-sekat politik sering kali membelah kita, mudik menyatukan kembali simpul yang sempat longgar. Ada dialog antargenerasi, ada rekonsiliasi antartetangga, dan ada penguatan akar budaya.

Karena itu, pemerintah jangan hanya sibuk mengurus aspal dan kelancaran lalu lintas. Rawat modal sosial penting itu. Ia kekayaan penting dan strategis yang tumbuh dari bawah. Ia kesadaran yang menggerakkan, bukan doktrin yang dipaksakan.

Tantangan besarnya ialah bagaimana memastikan ledakan ekonomi Rp190 triliun itu tidak menguap begitu saja setelah arus balik. Bagaimana agar perputaran uang itu menjadi pemantik investasi permanen di daerah.

Mudik membuktikan bahwa rakyat memiliki caranya sendiri untuk menyejahterakan satu sama lain. Kini tinggal bagaimana negara menjaga momentum itu agar tidak sekadar menjadi ritual tahunan yang melelahkan, tapi juga menjadi pilar kukuh bagi ketahanan ekonomi nasional.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)