Bank Sentral Jepang Tahan Suku Bunga di 0,75%

Ilustrasi, seseorang tengah berjalan di depan gedung Bank of Japan. Foto: Xinhua/Zhang Xiaoyu.

Bank Sentral Jepang Tahan Suku Bunga di 0,75%

Diva Rabiah • 19 March 2026 16:05

Tokyo: Bank of Japan (BoJ) memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya di level 0,75 persen dalam rapat kebijakan moneter yang berakhir Kamis, 19 Maret 2026. Keputusan ini sejalan dengan ekspektasi pasar yang sejak awal memperkirakan Bank Sentral Jepang belum akan bergerak dalam waktu dekat.

Keputusan tersebut diambil melalui voting dengan komposisi 8 berbanding 1. Anggota Dewan BoJ Hajime Takata mengusulkan kenaikan suku bunga ke level 1,0 persen. Namun, usulan tersebut tidak mendapat dukungan mayoritas.

Dalam pandangannya, Takata menilai target stabilitas harga Jepang pada dasarnya sudah tercapai. Ia juga mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi lanjutan, terutama yang berasal dari kenaikan harga global.

Di sisi lain, BoJ melihat pemulihan ekonomi Jepang masih berlangsung secara bertahap. Prospek pertumbuhan dinilai tetap moderat, dengan ekspektasi inflasi yang mulai menunjukkan tren kenaikan.

BoJ kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga inflasi di kisaran target 2 persen secara berkelanjutan. Bank sentral juga membuka ruang untuk pengetatan kebijakan lanjutan, apabila kondisi ekonomi dan pergerakan harga dinilai sejalan dengan proyeksi.

Namun, ketidakpastian global menjadi faktor utama yang menahan langkah BoJ. Eskalasi Perang Iran-Israel mendorong lonjakan harga minyak mentah, yang berpotensi menekan ekonomi Jepang sekaligus memicu tekanan inflasi.

BoJ memperkirakan inflasi inti sempat melemah di bawah 2 persen, sebelum kembali menguat seiring kenaikan harga energi. Di saat yang sama, Jepang juga diperkirakan mulai memasuki fase kenaikan upah yang berjalan beriringan dengan kenaikan harga.

Meski demikian, risiko dari lonjakan harga energi tetap menjadi perhatian utama. Perkembangan konflik di Timur Tengah, pergerakan harga minyak, hingga volatilitas pasar keuangan, dan nilai tukar yen akan menjadi faktor kunci yang memengaruhi arah kebijakan BoJ ke depan.
 

Baca juga: Krisis Hormuz Memanas, Jepang Berburu Sumber Energi Baru


(Bendera Jepang. Foto: Freepik)
 

Dampak terhadap USD/JPY


Setelah pengumuman penahanan suku bunga oleh BoJ, dolar AS menguat terhadap yen dan mendorong USD/JPY mendekati level 159,00. 

Dilansir dari FXStreet, secara teknikal pergerakan USD/JPY masih menunjukkan kecenderungan menguat dalam jangka pendek. Hal ini terlihat dari posisi harga yang tetap bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 dan 100 periode pada grafik empat jam, mengindikasikan bahwa minat beli masih mendominasi pasar.

Koreksi dari level tertinggi di kisaran 159,70 sejauh ini masih terbatas dan belum menunjukkan tekanan jual yang signifikan. Di sisi lain, indikator RSI yang berada di sekitar level netral mencerminkan momentum pasar yang cenderung stabil, tanpa sinyal pembalikan arah yang kuat.

Struktur tren naik juga masih terjaga, tercermin dari posisi harga yang tetap berada di atas area retracement Fibonacci 23,6 persen. Ini menandakan bahwa pelemahan yang terjadi masih dalam batas wajar dan belum mengganggu tren utama.

Area 158,71 menjadi penopang awal pergerakan harga. Namun, jika tekanan berlanjut hingga menembus 157,99, maka potensi pelemahan lanjutan ke kisaran 156,89 perlu diwaspadai.

Sementara itu, di sisi atas, level 159,75 menjadi resistan kunci. Jika berhasil ditembus, USD/JPY berpeluang melanjutkan penguatan dan membuka jalan menuju level 160, sekaligus mempertegas tren bullish dalam jangka pendek.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)