BMKG: Enam Daerah di NTB Siaga Hujan Lebat 11–20 Februari

Ilustrasi hujan. (Metrotvnews.com)

BMKG: Enam Daerah di NTB Siaga Hujan Lebat 11–20 Februari

Lukman Diah Sari • 10 February 2026 19:27

Mataram: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan enam daerah di Nusa Tenggara Barat (NTB) berstatus siaga hujan lebat pada dasarian II Februari 2026 atau mulai tanggal 11 hingga 20 Februari 2026. Status siaga tersebut ditetapkan menyusul meningkatnya potensi hujan berintensitas tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologis.

"Kami mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap berbagai risiko bencana hidrometeorologis, seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang," kata prakirawan Stasiun Klimatologi BMKG NTB Anggitya Pratiwi di Mataram, Selasa, 10 Februari 2026, melansir Antara.

Anggitya mengatakan enam daerah di NTB berstatus siaga hujan lebat adalah Kabupaten Bima (Kecamatan Tambora), Kabupaten Dompu (Kecamatan Pekat), serta Kabupaten Lombok Tengah (Kecamatan Batukliang Utara dan Kopang). Kemudian Kabupaten Lombok Timur (Kecamatan Aikmel, Montong Gading, Pringgasela, Sembalun, dan Wanasaba), Kabupaten Lombok Utara (Kecamatan Bayan dan Kayangan), serta Kabupaten Sumbawa (Kecamatan Empang, Maronge, Plampang, dan Ropang).

Pada 11-20 Februari 2026, BMKG memprakirakan ada peluang hujan dengan intensitas lebih dari 50 milimeter per dasarian sebesar 80 hingga lebih dari 90 persen yang hampir merata terjadi di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat. Adapun prakiraan hujan lebat lebih dari 100 milimeter per dasarian berpeluang 50 sampai 90 persen di sebagian besar wilayah Pulau Lombok, Kabupaten Sumbawa Barat, dan Kabupaten Sumbawa.

"NTB saat ini sudah memasuki periode musim hujan dan sebagian sedang memasuki periode puncak," kata Anggitya.

Ilustrasi hujan. Foto: Dok. Antara.

Sebelumnya BMKG mengingatkan masyarakat dan pemangku kebijakan di wilayah Nusa Tenggara Barat untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem pada 10-14 Februari 2026 mendatang. Hasil analisis BMKG memperlihatkan kemunculan gelombang frekuensi rendah dan gelombang ekuatorial Rossby yang aktif di sekitar wilayah NTB, termasuk ada pertemuan angin dan perlambatan kecepatan angin yang mendukung pertumbuhan awan hujan.

Faktor utama penyebab cuaca ekstrem lainnya adalah kelembapan udara yang relatif basah di berbagai lapisan atmosfer, serta labilitas atmosfer yang kuat. Kondisi atmosfer tersebut berpotensi meningkatkan pertumbuhan awan Kumulonimbus pemicu hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai petir atau kilat dan angin kencang di Nusa Tenggara Barat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)