Ketua Yayasan Sukma Bangsa Lestari Moerdijat. Dokumentasi/ Metro TV
20 Tahun Sukma Bangsa, Lestari Moerdijat: Perjalanan dari Luka Menuju Sekolah Kehidupan
Whisnu Mardiansyah • 23 July 2026 10:56
Lhokseumawe: Perayaan Hari Ulang Tahun ke-20 Yayasan Sukma Bangsa di Aceh pada Kamis, 23 Juli 2026, menjadi momen refleksi mendalam bagi seluruh keluarga besar Media Group. Ketua Yayasan Sukma Bangsa Lestari Moerdijat dalam sambutannya menegaskan perjalanan dua dekade bukan sekadar penanda waktu, melainkan sebuah proses pembelajaran hidup yang tak ternilai.
"Hari ini kita berkumpul bukan sekadar memperingati 20 tahun, tetapi sesungguhnya hari ini kita berkumpul untuk bersama-sama berhenti sejenak dan kembali melihat perjalanan 20 tahun yang lalu, perjalanan 20 tahun sebagai bekal untuk kita melangkah ke depan," kata Lestari Moerdijat dalam sambutannya di Sekolah Sukma Lhokseumawe, Kamis, 23 Juli 2026.
Perempuan yang akrab disapa Rerie itu menyampaikan apresiasi mendalam kepada Chairman Media Group sekaligus Ketua Dewan Pembina Yayasan Sukma, Surya Paloh yang menjadi inisiator pendirian sekolah. Menurutnya, sekolah yang didedikasikan oleh Surya Paloh memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar tempat menuntut ilmu.
"Satu hal Pak Surya, sekolah yang Bapak dedikasikan, yang Bapak inisiasi, sebetulnya bukan hanya sekolah untuk menuntut ilmu bagi anak-anak, bukan sekolah di mana kita sekadar belajar dan mendapatkan ilmu pengetahuan, tapi sesungguhnya ini adalah sekolah kehidupan, sekolah bagi kami semua yang berada di sini," jelasnya.
Lestari Moerdijat mengungkapkan perjalanan panjang selama dua dekade telah memberikan pelajaran luar biasa bagi keluarga besar Media Group yang ditugaskan mendirikan sekolah ini. Ia menyebut sekolah ini dibangun bukan semata-mata sebagai gedung fisik, tetapi dari luka, duka, dan tangisan yang menjadi fondasi perjuangan.
"Keluarga besar media grup 20 tahun lalu ketika mendapatkan tugas dari Bapak mendirikan sekolah ini, berjalan hingga saat ini, mendapatkan pelajaran yang luar biasa, dan inilah sekolah yang sesungguhnya sekolah kehidupan, di mana banyak pertanyaan, banyak pencarian yang sebetulnya belum selesai, banyak pekerjaan rumah," ungkapnya.
Dalam perjalanannya, Sekolah Sukma Bangsa berkembang menjadi model pendidikan yang mengedepankan karakter, mutu, keberagaman, dan perdamaian. Sekolah satu atap yang mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA ini hadir sebagai ikhtiar nyata membangun kembali masa depan generasi Aceh yang sempat luluh lantak akibat bencana dan konflik.

Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat (Rerie). Foto- Dok. Metrotvnews.com
"Kita tahu, sekolah ini dibangun bukan semata-mata sebagai sebuah gedung, sekolah ini dibangun dari luka, dari duka, dari tangisan, dan perjalanan sekolah ini membawa kita ke dalam sebuah perjalanan sukma yang luar biasa," jelas Lestari Moerdijat.
Lebih lanjut, ia menyebutkan perjalanan ini bukan hanya milik anak-anak dan seluruh tenaga kependidikan maupun tenaga pendukung yang terlibat, tetapi juga bagi seluruh jajaran media grup yang terus mendampingi hingga saat ini.
"Bukan hanya sebuah perjalanan bagi anak-anak, dan seluruh tenaga kependidikan maupun tenaga pendukung yang terlibat, tetapi bagi kami semua di jajaran media grup," ujarnya.
Sekolah Sukma Bangsa digagas Media Group sebagai respons atas tragedi tsunami 26 Desember 2004 dan konflik berkepanjangan yang melanda Aceh. Lembaga pendidikan ini diresmikan pada 14 Juli 2006 di tiga lokasi, yakni Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen, dan Kota Lhokseumawe.