BNPB Jelaskan Penyebab Bantuan Belum Merata ke Sejumlah Pengungsi Gempa NTT

Kepala BNPB, Letjen Suharyanto. Dok. Tangkapan Layar

BNPB Jelaskan Penyebab Bantuan Belum Merata ke Sejumlah Pengungsi Gempa NTT

Metro TV • 24 August 2026 19:33

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan penyebab bantuan untuk korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum merata ke sejumlah pengungsian. Jumlah dan lokasi pengungsi dinilai menjadi tantangan dalam penyaluran bantuan.

Kepala BNPB Letjen Suharyanto menjelaskan ada lebih 180 ribu orang yang mengungsi akibat gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Namun, tidak semua mengungsi secara terpusat. Ada beberapa orang yang memilih mengungsi di sekitar rumahnya, sehingga petugas dan relawan harus berusaha ekstra untuk menjangkau pengungsi tersebut.

“Tersebarnya titik-titik pengungsian mandiri ini yang mengakibatkan rekan-rekan media mungkin masih mendengar adanya kelompok masyarakat atau perorangan yang belum mendapat bantuan secara maksimal,” kata Suharyanto dalam konferensi pers daring, Senin, 24 Agustus 2026.

Suharyanto mengatakan BNPB telah berupaya mendistribusikan bantuan lewat berbagai cara. Mulai dari pendistribusian bantuan lewat mobil, motor, hingga petugas yang berjalan kaki untuk mencapai lokasi pengungsian.

“Ada armada-armada di tingkat kabupaten baik menggunakan roda empat, pick up kecil, sepeda motor, bahkan dengan cara jalan kaki. Seperti distribusi ke Pulau Palue,” ujar Suharyanto.

Penyaluran logistik ke pengungsi korban gempa NTT menggunakan motor. Dok. Tangkapan Layar

Hingga Minggu, 23 Agustus 2026, total 1.225 ton logistik sudah tersalurkan. Sebanyak 869 ton logistik disalurkan ke korban gempa yang mengungsi di wilayah Labuan Bajo dan 356 ton disalurkan di Maumere.

Demi kelancaran rantai distribusi bantuan, Kementerian Pekerjaan Umum (PU) secara bertahap memperbaiki sembilan ruas jalan nasional yang sebelumnya tidak dapat dilalui akibat gempa dan longsor.

“Sekarang tidak ada lagi jalan yang tidak bisa dilalui karena longsor atau gara-gara jembatannya rusak. Tidak pulih seperti sebelum bencana, tapi secara fungsional ini semuanya sudah bisa dilalui,” ujar Suharyanto.

Pemulihan Listrik hingga Ketersedian Air Bersih

Terkait sistem kelistrikan, Suharyanto memastikan listrik di Flores Barat sudah pulih 100 persen. Sementara itu, kelistrikan di Pulau Palue sudah pulih hingga 84,95 persen. Masyarakat juga sudah bisa mengakses internet secara penuh di NTT.

Untuk pemenuhan air bersih, Kementerian PU telah mengerahkan satu mobil tangki air ke Pelabuhan Ende, pemasangan hidran umum 4.000 liter, serta distribusi air bersih di Polap Berdikari (Nagekeo), Posko Pengungsian Pota (Manggarai Timur), dan Posko Pengungsian Riung (Ngada). Sebab, dua bendungan, satu daerah irigasi, dan dua sumur di wilayah terdampak bencana masih dalam proses perbaikan.

(Afifah Alfina)

(Achmad Zulfikar Fazli)