BRIN Peringatkan Risiko Amplifikasi Ekologi dan Wabah Pascabencana

Gedung BRIN. Foto: Humas BRIN.

BRIN Peringatkan Risiko Amplifikasi Ekologi dan Wabah Pascabencana

Anggi Tondi Martaon • 20 August 2026 14:40

Jakarta: Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memperingatkan bencana alam dapat memicu terjadinya fenomena amplifikasi ekologi. Hal itu sangat berisiko menimbulkan wabah penyakit tular vektor di tengah masyarakat.

Dalam diskusi tentang penyakit menular pascabencana yang digelar secara daring, peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN Ristiyanto mengungkapkan, alam pada dasarnya tidak serta-merta melahirkan wabah seketika. Namun menciptakan kondisi lingkungan yang sangat ideal bagi vektor dan reservoir pembawa penyakit untuk berkembang biak dengan cepat.

"Jadi ada suatu urutan atau rantai dapat kita lihat secara sederhana. Bencana terjadi, lingkungan berubah, populasi atau distribusi vektor dan reservoir berubah, kontak dengan manusia meningkat, kemudian risiko penyakit ikut meningkat pula," kata Ristiyanto dikutip dari Antara, Kamis, 20 Agustus 2026.

Ristiyanto mencontohkan bencana seperti tsunami atau banjir kerap menyisakan genangan air tawar maupun payau. Sedangkan bencana kekeringan memaksa masyarakat menampung air secara tidak higienis. Kondisi lingkungan baru tersebut secara radikal mengubah habitat nyamuk dan tikus.

Menurut dia, jika kondisi lingkungan yang rusak tersebut tidak segera ditangani, maka akan terjadi proses pembesaran risiko. Dalam istilah medis dikenal sebagai amplifikasi ekologi.

"Jadi, semakin lama maka lingkungan itu akan semakin memperkuat terjadinya perkembangan penyakit yang dibawa oleh vektor maupun reservoir itu sendiri," ungkap Ristiyanto.

Ilustrasi bencana alam. Foto: Metrotvnews.com/Fatma.

Ristiyanto menilai perubahan ekstrem pada ekologi itu akan memicu kemunculan penyakit-penyakit yang sebelumnya tidak ada atau tidak lazim ditemukan di suatu wilayah. Mulai dari demam berdarah dengue (DBD), malaria, hingga ancaman penyakit leptospirosis dan salmonelosis.

Oleh karena itu, ia menekankan perlunya kecepatan dalam membaca sinyal perubahan alam sebelum fasilitas pelayanan dasar masyarakat ikut lumpuh di wilayah yang terdampak parah.

"Jadi yang kita pantau bukan hanya jumlah penderita penyakit saja di sini, tetapi perubahan ekologi dapat menjadi sinyal sebelum peningkatan kasus itu terlihat," ucap Ristiyanto.

(Anggi Tondi)