Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6,7 di Sulteng

Dampak gempa M6,7 di Sulteng. Dok: BPBD Kabupaten Poso

Terjadi 703 Gempa Susulan Pascagempa M6,7 di Sulteng

Lukman Diah Sari • 18 June 2026 16:48

Jakarta: Guncangan gempa susulan masih berlangsung di Sulawesi Tengah (Sulteng), pascagempa utama magnitudo (M)6,7 oada Selasa, 16 Juni 2026. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkap hingga Kamis, 18 Juni 2026, terjadi ratusan gempa susulan dengan kekuatan mencapai M5,2. 

"Telah terjadi 703 kali gempa susulan, dengan magnitudo terbesar mencapai 5,2 dan terkecil 1,3. Sebanyak 25 gempa susulan dilaporkan masih dirasakan masyarakat," ujar Abdul dalam keterangan resmi, pada Kamis, 18 Juni 2026.

Gempa utama terjadi pada Selasa, 16 Juni, pukul 11.27 Wita dengan pusat gempa berada di darat sekitar 42 kilometer tenggara Kota Palu, tepatnya di Kabupaten Parigi Moutong, pada kedalaman 10 kilometer. Gempa ini tidak berpotensi tsunami.

Korban Meninggal 3 Orang

Sementara itu, BNPB mencatat, berdasarkan data terbaru hingga Kamis, 18 Juni 2026, korban meninggal sebanyak tiga orang. Selain itu, tercatat 17 orang mengalami luka berat dan 91 orang luka ringan.

"Sebanyak 2.109 kepala keluarga atau 6.412 jiwa terdampak akibat bencana tersebut," ungkap Abdul.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan hasil asesmen lapangan, Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami dampak paling signifikan. Tiga korban meninggal masing-masing berada di Desa Ampera, Kecamatan Palolo, serta Desa Kamarora A, Kecamatan Nokilalaki, dan satu korban lainnya yang telah terkonfirmasi dalam pendataan terbaru.

Dampak gempa M6,7 di Sulteng. Dok: BPBD Kabupaten Poso

Selain korban jiwa, gempa mengakibatkan kerusakan pada sedikitnya 1.652 unit rumah, yang terdiri dari 1.472 rumah rusak ringan, 111 rumah rusak sedang, dan 69 rumah rusak berat.

Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum dan sosial, meliputi 42 rumah ibadah, delapan gedung perkantoran termasuk Kantor Bupati Sigi dan BAPPERINDA, 13 bangunan sekolah, dua rumah adat, serta delapan jaringan air bersih.

(Lukman Diah Sari)