BNPB Pastikan Tak Ada Desa Terisolasi Pascagempa M 6,7 di Palu

Petugas kesehatan memeriksa infus pasien yang berada di pelataran ruang perawatan Rumah Sakit Anutapura Pal usai terjadi gempa di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (16/6/2026). ANTARA FOTO/Basri Marzuki/Lmo/YU/pri

BNPB Pastikan Tak Ada Desa Terisolasi Pascagempa M 6,7 di Palu

Whisnu Mardiansyah • 17 June 2026 13:50

Palu: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memastikan tidak terdapat laporan mengenai desa yang terisolasi pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah. Hingga saat ini, belum ada pos pengungsian terpusat karena warga lebih memilih mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda terpal di sekitar rumah masing-masing.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menjelaskan keputusan warga mengungsi mandiri sebagian besar dipicu oleh faktor trauma psikologis mengingat intensitas gempa susulan yang masih terasa signifikan.

"Secara terpusat tenda pengungsian berskala besar yang dilengkapi dapur umum belum kita bangun. Masyarakat saat ini lebih banyak mendirikan tenda-tenda darurat sementara dari terpal di sekitar rumah masing-masing," kata Abdul Muhari di Jakarta, seperti dilansir Antara, Rabu, 17 Juni 2026.

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), terdeteksi aktivitas gempa susulan sebanyak 118 kali dengan tren magnitudo yang terus mengecil pascagempa utama M 6,7 pada Selasa, 16 Juni 2026. Getaran gempa dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Kota Palu, Kabupaten Poso, Sigi, dan Parigi Moutong.
 


Abdul Muhari memastikan pendistribusian tenda keluarga bagi warga yang rumahnya terdata mengalami kerusakan dengan kategori berat terus dilakukan. Bantuan ini diharapkan dapat memenuhi kebutuhan tempat berlindung sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.

Menyangkut konektivitas wilayah, Abdul mengungkapkan jalur transportasi antarwilayah dipastikan tetap terhubung. Meskipun struktur aspal pada jalan yang mempertemukan koridor Palu, Sigi, dan Poso dilaporkan sempat tertutup material longsoran, kerusakan tersebut diproyeksikan dapat tertangani secara cepat.

"Badan jalan tidak amblas oleh longsor, sehingga ditargetkan dapat kembali dilalui oleh kendaraan umum dalam waktu satu hingga dua hari ke depan," ujar Abdul Muhari.

Dinas Pekerjaan Umum setempat telah dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat guna memulihkan akses jalan yang terdampak longsor. Pusat Pengendalian Operasi BNPB melaporkan data yang masuk hingga Rabu siang, 17 Juni 2026, mencatat sekitar 1.834 kepala keluarga atau setara 5.784 jiwa terdampak gempa dan telah dalam penanganan petugas tim gabungan.


Warga melakukan evakuasi mandiri saat terjadi gempa di Pantai Tondo, Palu, Sualwesi Tengah, Selasa, 16 Juni 2026. ANTARA FOTO/Basri Marzuki/tom.


Dari jumlah tersebut, tercatat satu orang meninggal dunia, 73 orang mengalami luka ringan, dan tiga orang mengalami luka berat. Abdul menjelaskan luka berat berkaitan dengan patah tulang atau cedera akibat reruntuhan struktur bangunan.

"Luka berat ini yang berkaitan dengan tulang atau luka akibat reruntuhan struktur bangunan. Dengan rincian di Sigi itu ada 1.813 KK, Parigi Moutong 21 KK, di Palu itu ada dua luka ringan, dan Poso satu luka ringan," jelas Abdul Muhari.

BNPB bersama pemerintah daerah dan tim gabungan terus melakukan pendataan, penanganan darurat, dan distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi gempa susulan dan hanya memercayai informasi dari sumber resmi.

(Whisnu M)