Bupati Yahukimo Kecam Pertikaian Antarsuku di Wamena dan Dorong Perdamaian

Bupati Yahukimo Didimus Yahuli (pakai topi). Foto: Istimewa.

Bupati Yahukimo Kecam Pertikaian Antarsuku di Wamena dan Dorong Perdamaian

Siti Yona Hukmana • 17 May 2026 18:39

Jakarta: Bupati Yahukimo Didimus Yahuli merespons tegas pertikaian antarsuku yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua pada Kamis, 14 Mei 2026. Pertikaian itu menimbulkan pembakaran rumah hingga menewaskan anak kecil dan ibu-ibu.

Ia menegaskan peristiwa di Wamena itu bukanlah perang dalam arti adat yang normal, melainkan sebuah tindakan sepihak yang sangat keji, sadis, dan tidak berperikemanusiaan. Masyarakat dari suku Yali dan Mek disebut sama sekali tidak memiliki sangkut paut atau kesalahan dalam persoalan ini. Namun, mereka justru menjadi korban yang diserang secara pengecut saat sedang tidur.

"Bahkan rumah-rumah honai mereka dibakar. Korban meninggal pun melibatkan anak-anak kecil dan kaum ibu. Ini adalah pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan dan murni pemberlakuan hukum rimba yang tidak terhormat," kata Bupati Yahukimo dalam keterangannya, Minggu, 17 Mei 2026.

Hal ini disampaikan Bupati usai menghadiri rapat koordinasi bersama unsur Forkopimda Provinsi Papua Pegunungan, jajaran Forkopimda dari Kabupaten Lanny Jaya, Jayawijaya, dan Yahukimo, serta dihadiri Pangdam, Danrem, serta perwakilan Polda setempat. Dalam pertemuan tersebut, Bupati tegas menolak tradisi “bayar kepala” atau uang darah. 

Bupati menilai tradisi pemanfaatan uang darah ini lah yang selama ini merusak tatanan sosial dan memicu terus berulangnya konflik, serta jatuhnya lebih banyak korban jiwa.

“Dalam forum ini telah disepakati bersama oleh seluruh kepala daerah dan unsur pengamanan, bahwa tidak ada lagi praktik bayar kepala di masa mendatang,” tegas Bupati Didimus.

Pada kesempatan itu, Bupati Yahukimo mengunjungi langsung posko kemanusiaan masyarakat Yahukimo untuk memberikan penguatan moril. Beliau meminta seluruh warga Yahukimo tidak ikut serta dalam peperangan, melainkan tetap fokus pada upaya perlindungan diri yang wajar.

“Kita ini adalah keluarga besar. Jika ada persoalan, harus diselesaikan dengan akal sehat dan duduk bersama dengan baik. Saya meminta seluruh masyarakat untuk melepaskan pengampunan dan tidak menyimpan dendam. Mari kita serahkan segala keadilan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa," ujar Didimus.

Ilustrasi tempat kejadian perkara, Metrotvnews.com (Muhammad Khoirur Rosyid)

Di sisi lain, Bupati meluruskan bahwa lokasi pertikaian (Woma) berada di wilayah administrasi Kabupaten Jayawijaya, bukan di Yahukimo. Batas wilayah Yahukimo berada sangat jauh, yakni sekitar 100 kilometer lebih dari lokasi kejadian. 

Namun, karena korban terdampak merupakan warga Yahukimo (Yali-Mek), Pemkab Yahukimo tetap mengambil langkah cepat demi melindungi warganya.

"Pemerintah Kabupaten Yahukimo memastikan akan terus mengawal proses pemulihan keamanan ini dan berencana melanjutkan kunjungan ke kelompok-kelompok masyarakat lainnya, guna memastikan seluruh warga dapat hidup berdampingan dengan damai dan aman,” ungkap Bupati Yahukimo.

Penyaluran bantuan kemanusiaan

Sebagai bentuk tanggung jawab terhadap warga yang terdampak, Pemerintah Kabupaten Yahukimo menyerahkan bantuan kemanusiaan sebesar Rp500 juta beserta 4 ton beras. Langkah ini juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten Jayawijaya yang turut memberikan bantuan sebesar Rp100 juta dan 1 ton beras untuk penanganan darurat para korban.

Larangan membawa sejata tajam di dalam kota

Guna memastikan situasi keamanan kembali kondusif, masyarakat Yahukimo melalui kepala suku, tokoh pemuda, tokoh perempuan, dan pendeta membuat pernyataan sikap bersama. Mereka mendesak agar aturan hukum ditegakkan secara ketat, termasuk larangan total membawa alat tajam/senjata tradisional di dalam wilayah kota, baik bagi warga Yahukimo maupun warga Lanny Jaya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Siti Yona Hukmana)