Ada Normalisasi Kekerasan di Daycare, Psikologis Anak Bisa Terdampak

Ilustrasi Pexels

Ada Normalisasi Kekerasan di Daycare, Psikologis Anak Bisa Terdampak

Muhamad Marup • 11 May 2026 11:07

Jakarta: Kekerasan di lembaga pengasuhan atau daycare menyita perhatian publik. Dosen Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Diana Setiyawati, menilai praktik kekerasan di daycare tersebut diduga karena motif ekonomi dan sistem kerja yang tidak sehat.

Ia turut menjelaskan posisi nanny sitter atau pengasuh cenderung berada dalam posisi rentan di bawah aturan dan tuntutan dari atasan. Beberapa orang dalam kondisi tertentu dapat menormalisasi tindakan yang sebenarnya melanggar nilai-nilai kemanusiaan dengan alasan efisiensi kerja.

"Motifnya bisa jadi karena ekonomi, agar lebih mudah mengatur anak sekaligus bisa ‘merawat’ banyak anak," ujarnya mengutip laman UGM, Senin (11/5).

Diana yang pernah bekerja sebagai paruh waktu di daycare, Australia, mengatakan, ada upaya penciptaan ruang daycare yang aman bagi anak dan bayi. pemerintah secara rutin melakukan inspeksi terhadap layanan pengasuhan anak.

"Normalisasi perilaku kasar di lembaga pengasuhan dapat terjadi apabila tidak ada sistem pengawasan yang kuat," jelasnya.

Dampak psikologis anak

Diana menerangkan, kekerasan tetap berdampak pada psikologis meski korban adalah anak bayi yang masih sangat jauh di bawah umur. Mereka akan menangis untuk mengekspresikan emosi-emosi negatif yang mereka rasakan.

Ia menambahkan bayi belum mampu mengekspresikan ketakutan atau ketidaknyamanan. Ketika orang dewasa tidak memahami, atau justru mencoba membungkam emosi bayi, maka bayi akan berpotensi memendam perasaan yang mereka rasakan.

"Misalnya respons bayi saat dipukul menangis, ia bisa jadi akan menyembunyikan emosinya di hari kemudian. Padahal itu caranya menunjukkan apa yang ia rasakan," katanya.

Diana turut menyampaikan bahwa dampak psikologis pada bayi juga sangat bergantung pada bentuk kekerasan dan kronologi yang terjadi. Dengan demikian, memahami kronologi menjadi catatan penting.

Ruang aman dan relasi emosional


Ilustrasi Pexels


Diana menerangkan, bagi bayi yang sempat mengalami kekerasan maupun bayi yang secara psikis sehat,  lingkungan yang hangat, aman, dan penuh kasih sayang menjadi fundamental. Hal tersebut dapat mencegah trauma permanen.

Ekosistem yang baik berupa dukungan orang tua maupun pengasuh yang responsif menjadi faktor penting dalam proses pemulihan. Relasi emosional yang sehat sejak dini akan membantu anak membangun kepercayaan diri dan kestabilan emosi pada perkembangannya.

"Bayi perlu diberikan lingkungan yang hangat, dipeluk, disayangi, dan diberikan rasa aman untuk membantu menyembuhkan trauma," katanya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)