Kekerasan Seksual di Pesantren Pati, Menteri PPPA Apresiasi Peran Masyarakat

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi. Foto: Kemen PPPA

Kekerasan Seksual di Pesantren Pati, Menteri PPPA Apresiasi Peran Masyarakat

Muhamad Marup • 10 May 2026 22:32

Jakarta: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, memberikan apresiasi atas peran aktif masyarakat dalam mendukung percepatan proses hukum kasus kekerasan seksual yang terjadi di salah satu pesantren di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

"Keberanian masyarakat untuk bersuara dan memantau kasus kekerasan seksual di Pati merupakan kekuatan besar bagi kita semua," ujar Menteri PPPA, dalam keterangan resminya, Minggu, 10 Mei 2026.

Ia menjelaskan, penangkapan tersangka dinilai sebagai momentum penting dalam memutus rantai kekerasan seksual di lingkungan pendidikan berbasis agama. Perlindungan perempuan dan anak adalah kerja kolektif.

"Penangkapan tersangka ini adalah bukti bahwa masyarakat tidak membiarkan kekerasan terjadi di lingkungan suci pendidikan," katanya.

Menteri PPPA menekankan pentingnya pendampingan hukum dan psikologis. Langkah tersebut penting untuk meruntuhkan tembok relasi kuasa yang kerap membungkam korban di lingkungan institusi pendidikan.

Ia menambahkan, langkah tersebut menjadi prioritas utama untuk menjamin perlindungan korban dari intimidasi pelaku sekaligus memastikan pemulihan trauma dilakukan secara komprehensif hingga tuntas.
 
"Dukungan masyarakat menjadi penguat bagi Kemen PPPA dalam upaya pendampingan dan perlindungan korban," terangnya.

Arifah mengungkapkan, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Agama terkait peninjauan izin operasional pesantren tersebut. Keamanan dan kenyamanan santri lainnya harus menjadi jaminan mutlak.

"Pesantren harus kembali menjadi tempat yang bermartabat dan penuh kasih bagi anak-anak kita," tuturnya.

Legislator Tegaskan Tak Kompromi Kasus Kekerasan Seksual di Pati

Ilustrasi - Kekerasan terhadap santriwati. Foto: ANTARA/HO-AI.

Pemulihan korban

Menteri PPPA mengatakan pihaknya akan memastikan penanganan di lapangan dilakukan secara komprehensif melalui unit layanan di daerah. Menurut Menteri PPPA, Keberadaan Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) dan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) memiliki peran strategis dalam mendukung pemulihan korban serta mencegah kejadian serupa terulang kembali
 
Di bawah koordinasi Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Pati, PUSPAGA hadir memberikan layanan konseling bagi orang tua korban. Fokus utamanya adalah penguatan mental keluarga guna menghadapi trauma serta menangkal stigma sosial yang kerap menyudutkan korban.

Sementara, sebagai gerakan jaringan warga di tingkat desa, relawan PATBM dapat bertugas melakukan deteksi dini dan menjamin keamanan saksi maupun korban di lingkungan tempat tinggal mereka dari segala bentuk intimidasi.
 
"Kita tidak boleh membiarkan korban merasa sendirian. Melalui PATBM dan PUSPAGA, kita rangkul korban, keluarga, dan lingkungannya agar mereka mereka dapat bangkit kembali," jelasnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)