12 Kasus H3N2 Terdeteksi di Malang, Dinkes Imbau Warga Waspada

Ilustrasi freepik

12 Kasus H3N2 Terdeteksi di Malang, Dinkes Imbau Warga Waspada

Daviq Umar Al Faruq • 21 September 2026 17:03

Malang: Influenza A subtipe H3N2 menjadi jenis influenza yang paling banyak ditemukan di Kota Malang, Jawa Timur, sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan penyakit saluran pernapasan tersebut.

Data Dinkes Kota Malang mencatat terdapat 20 kasus influenza yang terdeteksi selama periode Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah itu, 12 kasus merupakan H3N2, tujuh kasus H1N1, dan satu kasus influenza tipe B Victoria.

Kepala Dinkes Kota Malang Husnul Muarif mengatakan H3N2 menjadi subtipe yang perlu mendapat perhatian. Menurut dia, keluhan yang muncul pada pasien dengan infeksi H3N2 dapat lebih berat dibandingkan influenza lainnya.

"Yang harus diwaspadai memang H3N2, karena itu yang kita sebut sebagai 'super flu'. Karena keluhannya itu lebih banyak dan lebih berat dibandingkan dengan tipe lainnya," kata Husnul, Senin, 21 September 2026.

Husnul menjelaskan influenza termasuk dalam spektrum Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Gangguan tersebut mencakup sejumlah kondisi, mulai dari keluhan pernapasan ringan, Influenza-Like Illness (ILI), hingga pneumonia.

Menurut dia, faktor yang memicu ISPA cukup beragam. Paparan polutan seperti debu dan asap menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kondisi saluran pernapasan.
 


"ISPA penyebabnya banyak, ada debu, ada asap. Kemudian juga pengaruh-pengaruh yang lain. Debu itu bisa di dalam rumah, bisa di luar rumah. Asap bisa asap kendaraan bermotor, bisa juga asap pembakaran," jelas Husnul.

Kondisi setiap orang turut memengaruhi tingkat keparahan infeksi. Gejala influenza H3N2 pada tahap awal dapat menyerupai flu pada umumnya.

Namun, Husnul menyebut sejumlah keluhan dapat muncul dengan intensitas lebih berat. Gejala tersebut antara lain demam, nyeri pada tubuh, sakit kepala, serta suara serak.

"Gejalanya hampir sama dengan flu biasa, cuma kalau yang tipe lebih berat itu biasanya serak, tapi seraknya banget. Kemudian juga ada demamnya, badannya sakit semua terutama untuk di kepala," ujar Husnul.



Foto udara kebakaran lahan di Kabupaten Kubu Raya, Kalbar (ANTARA/HO : Walhi Kalbar)


Dalam penanganan klinis, gangguan saluran pernapasan dapat dikategorikan berdasarkan tingkat keparahannya. Kondisi pasien dengan gejala influenza dapat berkembang dari kategori Influenza-Like Illness (ILI) menjadi Severe Acute Respiratory Infection (SARI) apabila mengalami kondisi yang lebih berat.

Pasien dengan kondisi SARI membutuhkan penanganan medis lebih lanjut di fasilitas kesehatan rujukan. Salah satu fasilitas yang disiapkan untuk menangani kasus dengan kondisi tersebut ialah RSUD Dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.

"Kalau lebih berat lagi, masuk ke SARI atau Severe Acute Respiratory Infection. Nah itu nanti ada penanganannya di Saiful Anwar. Namun berapa jumlahnya belum kami terima laporannya," tutur Husnul.

Hingga Agustus 2026, Dinkes Kota Malang mencatat 20 kasus influenza. Dari jumlah tersebut, H3N2 menjadi subtipe yang paling banyak ditemukan dengan 12 kasus.

Dinkes Kota Malang mengimbau masyarakat menjaga kondisi tubuh sebagai salah satu langkah menghadapi risiko infeksi saluran pernapasan. Masyarakat juga diminta mengurangi paparan debu dan asap dalam aktivitas sehari-hari.

Penggunaan masker juga dianjurkan ketika berada di luar rumah atau berkumpul di tengah komunitas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi paparan terhadap polutan maupun risiko penularan penyakit saluran pernapasan.

"Bagaimana mencegah supaya mempersiapkan daya tahan tubuhnya baik. Kemudian mengurangi paparan debu. Sehingga pemakaian alat pelindung diri minimal masker diperlukan saat di luar, saat kumpul dengan komunitas," pungkas Husnul.

(Whisnu M)