Partai United Russia unggul 57,5 persen dalam hasil sementara pemilu parlemen Rusia 2026. (Anadolu Agency)
Partai Pendukung Putin Unggul Sementara dalam Hasil Awal Pemilu Rusia
Muhammad Reyhansyah • 21 September 2026 14:25
Moskow: Partai berkuasa Rusia, United Russia, unggul dalam hasil sementara pemilu parlemen Rusia dengan perolehan 57,5 persen suara.
Pemilu tersebut merupakan yang pertama digelar sejak Rusia melancarkan invasi penuh ke Ukraina pada 2022.
Melansir India Today, Senin, 21 September 2026, hasil sementara resmi menunjukkan United Russia berada jauh di depan partai-partai lain dalam pemilu untuk memilih anggota Duma Negara yang memiliki 450 kursi.
Presiden Rusia Vladimir Putin sebelumnya menyebut pemilu tersebut sebagai ujian dukungan masyarakat terhadap kebijakannya dan perang di Ukraina.
Partai Komunis, LDPR, New People, dan Just Russia berada di belakang United Russia dan diperkirakan tetap memperoleh kursi di Duma Negara.
Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia sekaligus mantan Presiden Dmitry Medvedev mengatakan United Russia telah menjalankan pemilu dengan baik. Ia menyebut hasil tersebut menunjukkan masyarakat Rusia mempercayakan partainya untuk kembali memimpin pemerintahan.
Pemilu Dibayangi Ancaman Drone
Pemilu berlangsung ketika Ukraina melancarkan serangan drone besar-besaran terhadap Moskow dan sejumlah wilayah Rusia.Otoritas Rusia mengatakan serangan tersebut menewaskan tiga orang di wilayah Moskow dan dua orang lainnya di wilayah Kherson yang berada di bawah kendali Rusia. Salah satu korban di Kherson disebut merupakan petugas pemilu.
Wali Kota Moskow Sergei Sobyanin mengatakan serangan tersebut bertujuan mengganggu pelaksanaan pemilu, tetapi mengklaim upaya tersebut gagal.
Sebuah fasilitas di kilang minyak Moskow yang sebelumnya pernah menjadi sasaran juga mengalami kerusakan. Api dan kepulan asap terlihat dari lokasi ketika pemungutan suara berlangsung di ibu kota.
Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan Ukraina juga meluncurkan rudal jelajah Flamingo. Kementerian tersebut mengklaim hampir 2.000 drone Ukraina dan delapan rudal jelajah ditembak jatuh di berbagai wilayah Rusia dalam 24 jam sebelumnya.
Rusia mengatakan akan meningkatkan serangan terhadap sasaran militer Ukraina sebagai respons.
Serangan Siber
Otoritas pemilu Rusia juga mengatakan sistem pemungutan suara menghadapi gelombang serangan siber. Meski demikian, mereka menyatakan proses pemilu secara umum tetap berjalan.Data Komisi Pemilihan Umum Pusat Rusia menunjukkan tingkat partisipasi telah mencapai hampir 57 persen pada Minggu sore waktu Moskow.
Kelompok oposisi Rusia di pengasingan sebelumnya menyerukan warga yang menentang pemerintah untuk berkumpul di tempat pemungutan suara pada tengah hari sebagai bentuk protes simbolis.
Antrean panjang terlihat di sejumlah lokasi, meski dampaknya terhadap hasil keseluruhan pemilu belum dapat dipastikan.
Kandidat Anti-Perang Banyak Dilarang
Sebagian besar kandidat yang menentang perang tidak dapat mengikuti pemilu.Kandidat dari Partai Yabloko mengatakan mereka mengkhawatirkan kebebasan mereka setelah pengadilan menjatuhkan hukuman penjara panjang terhadap dua tokoh senior partai tersebut terkait pernyataan mengenai konflik.
Di Rusia, tindakan yang dianggap mendiskreditkan militer atau menyebarkan informasi palsu menurut pemerintah dapat dikenai hukuman penjara panjang.
Pemimpin Yabloko Nikolai Rybakov melakukan aksi simbolis dengan mencoret surat suara dan menuliskan nama partainya serta slogan "Untuk perdamaian."
Kremlin mengatakan persatuan nasional dan sejumlah pembatasan informasi diperlukan selama apa yang disebut pemerintah sebagai "operasi militer khusus" di Ukraina.
Sementara itu, Ukraina menolak hasil pemilu Rusia dan menyebutnya sebagai "pemilu semu."
Pemilu tersebut menjadi pemilihan parlemen pertama Rusia sejak invasi penuh ke Ukraina pada Februari 2022. Hasilnya diperkirakan akan digunakan Kremlin untuk menunjukkan dukungan publik terhadap kebijakan Putin dan perang yang telah memasuki tahun kelima.
Baca juga: Pemilu Parlemen Rusia Dimulai, Kali Pertama Sejak Perang Ukraina