Orang tua dari pasien anak penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) menunggu anaknya yang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) BARI Palembang, Sumatera Selatan, Selasa (13/10/2026). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
277.075 Kasus ISPA Ditemukan di Wilayah Terdampak Karhutla, 22,5% Dialami Anak-anak
Achmad Zulfikar Fazli • 14 October 2026 11:11
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memantau kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tujuh provinsi terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk mendeteksi peningkatan kasus dan memperkuat respons kesehatan. Data per 12 Oktober 2026, terdapat 277.075 kasus ISPA, termasuk 22,5 persen atau 62.400 kasus pada anak usia 0-5 tahun.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Aji Muhawarman mengatakan Kemenkes bersama pemerintah daerah telah memperkuat pemantauan penyakit, pelayanan kesehatan, kesiapan fasilitas kesehatan, serta distribusi logistik. Per 12 Oktober 2026, laporan mencatat mobilisasi 2.106 tenaga medis/kesehatan dan dukungan logistik lebih dari 2,8 juta masker yang didistribusikan pemerintah pusat dan daerah.
"Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lainnya yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok rentan," kata Aji, Jakarta, dilansir dari Antara, Rabu, 14 Oktober 2026.
%20di%20Kota%20Pekanbaru%2C%20Riau_%20(MI_RK).jpg)
Kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Pekanbaru, Riau. (MI/RK)
Aji mengimbau para orang tua agar segera membawa anaknya ke fasilitas kesehatan jika mengalami sesak napas, napas cepat, sulit menyusu atau minum. Penggunaan nebulizer harus sesuai indikasi dan petunjuk tenaga medis, bukan dilakukan sembarangan secara mandiri.
Aji mengatakan kabut asap berkepanjangan juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan jiwa, stres, serta kecemasan karena aktivitas sosial ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan terganggu. Menurut dia, masyarakat perlu menjaga rutinitas dan aktivitas anak di dalam ruangan dengan udara lebih bersih, serta memperhatikan perubahan perilaku atau gangguan tidur hingga pola makan.
"Jika keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan dengan tenaga medis/kesehatan, jangan tunggu memburuk," ujar Aji.
Dia juga mengingatkan masyarakat perlu mengurangi aktivitas di luar rumah ketika kualitas udara memburuk. Masyarakat diminta menggunakan respirator seperti N95 atau KN95 yang terpasang rapat untuk membantu menyaring partikel halus jika harus keluar rumah.
Selain itu, masyarakat bisa menggunakan masker medis atau masker kain secara berlapis agar lebih efektif menyaring udara. Bayi dan balita sebaiknya dilindungi dengan mengurangi paparan asap, bukan mengandalkan masker.
Pihaknya mendorong kesiapan layanan kesehatan dan perlindungan kelompok rentan di wilayah terdampak. Pemerintah daerah dapat mengoptimalkan fasilitas yang memungkinkan untuk menjadi ruang aman dari asap, dilengkapi penyaring udara yang sesuai dan akses pelayanan kesehatan, terutama bagi bayi, balita, serta ibu hamil. Beberapa daerah terdampak telah menyediakan ruang oksigen.
"Pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara dan kebutuhan masyarakat setempat, melalui koordinasi OPD (Organisasi Perangkat Daerah), seperti dinas kesehatan, BPBD, dan perangkat daerah terkait. Bagi warga yang rumahnya sulit terlindung dari asap, akses ke ruang dengan udara lebih bersih menjadi penting," ujar Aji.