Kebutaan Picu Kerugian Ekonomi hingga USD1,1 Miliar per Hari

Ketua Umum Perdami, Budu. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina

Kebutaan Picu Kerugian Ekonomi hingga USD1,1 Miliar per Hari

Anggi Tondi Martaon • 14 October 2026 00:06

Jakarta: Gangguan penglihatan yang dibiarkan tanpa penanganan medis tidak hanya menurunkan kualitas hidup individu. Gangguan kesehatan tersebut juga memicu kerugian ekonomi yang luar biasa besar bagi negara.

Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami), Budu, menyebut USD411 miliar hilang per tahun secara global akibat penurunan produktivitas karena masalah kebutaan. "Bahkan jika dihitung per hari itu akan hilang 1,1 miliar US dolar kalau kemudian kita tidak tangani kebutaan,” kata Budu di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026.

Tidak hanya mengancam usia produktif dan keselamatan umum, hambatan visual pada anak-anak juga berdampak langsung pada masa depan pendidikan mereka. Keterbatasan dalam melihat membuat proses penyerapan ilmu di sekolah terganggu.

“Adanya gangguan penglihatan maka peluang menempuh pendidikan itu itu turun menjadi lebih rendah lima kali lebih kecil dibanding anak-anak dengan penglihatan baik,” ujar Budu.
 


Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah yang cukup berat bagi Indonesia mengingat status ekonomi nasional yang masih berada di kelompok negara berkembang.

“Ini tantangan tersendiri bagi bangsa kita karena bangsa kita masuk di grup negara-negara dengan berpendapatan rendah menengah,” kata Budu.

Temuan di lapangan pun memperkuat urgensi penanganan masalah ini, tercatat dalam data program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Jutaan masyarakat terindikasi mengalami masalah pada penglihatan mereka.

“Jadi di Indonesia ini data dari Cek Kesehatan Gratis tahun 2025-2026, 1 dari 8 atau 2,95 juta dari 23,35 juta peserta Cek Kesehatan Gratis ternyata didapati memiliki gangguan mata,” jelas Budu.

Ketidaksadaran masyarakat terhadap gangguan penglihatan yang dialami sering membuat mereka menunda pemeriksaan hingga kondisi matanya terlanjur parah. Keterlambatan penanganan semacam ini berisiko tinggi memicu kebutaan permanen yang tidak dapat disembuhkan kembali.


Ilustrasi kesehatan mata. Foto: Pexels.

“Tapi apa yang terjadi? Mereka tidak sadar. Jadi tidak sadar oh nampaknya ada gangguan penglihatan. Nah kalau misalnya dia tidak sadar, dia mengundur-undur kemudian bahkan nanti terjadi kebutaan baru datang, inilah masuk kategori kebutaan permanen. Nah itu yang harus dihindari,” terang Budu.

Oleh sebab itu, budaya melakukan skrining dan deteksi dini harus terus digalakkan agar fungsi saraf mata tetap terjaga dengan baik. Pemeriksaan sejak awal dapat mencegah komplikasi serius.

“Dan deteksi dini itu sangat penting. Karena kalau deteksi dini saraf mata yang menjadi dampak utama dari peninggian tekanan bola mata yang dikenal dengan glaukoma itu akan bisa dipelihara,” tegas Budu.

(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)

(Anggi Tondi)