Ketua Umum Perdami, Budu. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Aturan 20-20-20 Efektif Cegah Kerusakan Mata Akibat Layar Gawai
Metro TV • 13 October 2026 18:39
Jakarta: Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (Perdami) mengimbau masyarakat untuk menerapkan metode 20-20-20. Hal ini guna mencegah masalah kesehatan mata akibat penggunaan gawai dan layar digital secara terus-menerus.
“Setiap 20 menit kita di layar kan, di layar komputer, kita harus membuang penglihatan kita sejarak 20 feet atau 6 meter, kemudian kita melihat satu objek selama 20 detik, 20 detik. Sampai begitu mata kita kembali rileks,” kata Ketua Umum Perdami, Budu, di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Selasa, 13 Oktober 2026.
Budu menjelaskan bahwa penerapan jeda penglihatan sangat krusial untuk menjaga kelenturan otot mata. Jeda tersebut juga mencegah lonjakan ukuran minus yang drastis pada anak-anak maupun orang dewasa.
“Di era anak-anak kita tidak bisa hidup tanpa gadget lagi, maka kalau kita tidak mau menerapkan 20-20-20 rules, itu bisa saja suatu saat minus kita satu, tahun depan menjadi minus 3, tahun depan paling menjadi minus 5,” jelas Budu.
Selain membatasi paparan layar gawai, Budu menegaskan pentingnya pemeriksaan kesehatan mata secara berkala. Skrining sejak dini menjadi kunci untuk menjaga fungsi saraf mata dari penyakit berbahaya seperti glaukoma.
“Deteksi dini itu sangat penting. Karena kalau deteksi dini saraf mata yang menjadi dampak utama dari peninggian tekanan bola mata yang dikenal dengan glaukoma itu akan bisa dipelihara,” kata Budu.
Risiko penurunan fungsi penglihatan juga makin meningkat pada kelompok usia di atas 40 tahun. Gejala awal katarak umumnya mulai bermunculan.
“Di atas 40 tahun itu kemungkinan kita sudah mulai ada tanda-tanda katarak, mungkin sudah ada permulaan kita harus pakai alat-alat bantu melihat dekat,” tutur Budu.
.jpg)
Ilustrasi. Foto: Dok. Metrotvnews.com.
Budu turut mengingatkan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit keluarga, seperti Diabetes Melitus (DM) maupun mata minus tinggi, untuk lebih proaktif memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
“Kemudian riwayat keluarga, siapa yang punya riwayat keluarga DM (Diabetes Melitus), siapa yang punya riwayat keluarga minus tinggi, siapa yang punya riwayat keluarga dan lain-lain seterusnya, itu periksa,” ujar Budu.
Perlindungan ekstra harus diterapkan oleh para pekerja di lingkungan berisiko tinggi. Penggunaan kacamata pelindung diri sangat esensial untuk mencegah cedera fisik serius pada mata akibat kecelakaan kerja.
“Kemudian pekerja berisiko, ya orang-orang yang tukang las, tukang bengkel, tukang-tukang batu, dan seterusnya itu harus punya kacamata pelindung karena banyak sekali masyarakat kita datang dengan matanya sudah bernanah, matanya sudah merah, matanya sudah tidak bisa melihat, matanya sudah bengkak karena kena gerinda,” kata Budu.
(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)