Kemenkes Tekankan Pentingnya Edukasi Mengurangi Konsumsi Gula

Label Nutri-Level Kemenkes. Foto: Tangkapan layar Instagram Kemenkes.

Kemenkes Tekankan Pentingnya Edukasi Mengurangi Konsumsi Gula

Fachri Audhia Hafiez • 13 October 2026 17:53

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menekankan edukasi mengubah perilaku konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL) secara masif penting dilakukan. Kesadaran individu menjadi kunci utama untuk menekan risiko GGL berlebihan.

"Kalau teman-teman biasa minumnya manis, terus nanti pemerintah turunkan kadar gulanya, pasti nanti tetap beli tapi di rumah ditambah gula kan. Itu enggak mengubah perilaku ya. Jadi kita memang artinya harus meningkatkan dulu pemahaman masyarakat bahwa mengurangi gula itu menjadi penting," kata Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 13 Oktober 2026.
 


Pernyataan tersebut disampaikan Nadia merespons Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 110/PUU-XXIV/2026 yang mengabulkan permohonan terkait aturan pelabelan GGL. Sebagai langkah awal, Kemenkes tengah menyusun petunjuk teknis (juknis) aturan pelabelan tersebut.

Nadia menjelaskan kandungan GGL dalam produk ditulis dalam sistem label nutri-level yang terbagi menjadi empat kategori, yaitu A, B, C, dan D. Kategori A menunjukkan kandungan pangan tinggi GGL, sedangkan D menunjukkan kandungan GGL yang paling rendah.


Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.

Penerapan label ini dinilai jauh lebih memudahkan masyarakat awam untuk memahami tingkat kesehatan produk yang dikonsumsi, dibandingkan membaca tabel informasi gizi (nutrition fact) biasa. “Tapi sebenarnya untuk pangan yang sudah jadi atau pengemasan itu kan sudah ada nutrition fact ya, walaupun memang keluhannya tuh sulit kan ya untuk membaca,” ujar Nadia.

Sebelum diterapkan secara wajib ke seluruh produk pangan kemasan, Kemenkes akan memfokuskan penggunaan label nutri-level pada produk minuman siap saji melalui penempelan stiker khusus sebagai sarana edukasi kepada masyarakat.

(Fachri Audhia Hafiez)