Ilustrasi: Medcom.id
Serangan Udara di Tambang Emas Sudan-Mesir, 72 Pekerja Tewas
Fajar Nugraha • 12 October 2026 12:15
Kairo: Setidaknya 72 pekerja tewas dalam serangan udara di sebuah tambang emas di perbatasan Sudan-Mesir pada Sabtu, menurut pernyataan kelompok hak asasi manusia (HAM) Sudan pada hari Minggu.
Organisasi Emergency Lawyers menuding angkatan udara Mesir sebagai pelaku serangan tersebut. AFP tidak dapat memverifikasi laporan ini secara independen dan pihak Mesir belum memberikan komentar resmi.
Setidaknya 72 pekerja tewas akibat serangan udara di sebuah tambang emas di perbatasan Sudan-Mesir, kata sebuah kelompok HAM Sudan pada hari Minggu, setelah para penyintas menggambarkan situasi kacau di wilayah pegunungan tersebut.
Organisasi HAM Emergency Lawyers menuding angkatan udara Mesir melakukan serangan itu. AFP tidak dapat mengonfirmasi laporan tersebut secara independen dan Mesir belum mengeluarkan komentar resmi.
Serangan pada hari Sabtu itu merupakan yang kedua kalinya tahun ini di Jabal al-Uqaydat, setelah serangan udara ,yang dilaporkan dilakukan oleh Mesir, menewaskan 23 pekerja di lokasi penambangan emas informal tersebut pada Juni.
Militer Mesir tidak mengakui serangan tersebut, namun pada saat itu menyatakan telah melakukan "operasi berskala besar" terhadap penambangan emas ilegal di dalam wilayahnya.
Wilayah perbatasan antara Sudan dan Mesir merupakan area sengketa, di mana kedua negara sama-sama mengklaim wilayah Segitiga Halayeb yang kaya sumber daya. Namun, Kairo merupakan sekutu utama militer Sudan yang sedang berperang melawan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF).
Serangan pada hari Sabtu itu "mengakibatkan tewasnya 72 penambang sipil, menurut informasi awal, sementara upaya untuk mendokumentasikan dan memverifikasi jumlah korban masih terus berlangsung," kata Emergency Lawyers, organisasi yang mendokumentasikan berbagai kekejaman dalam perang di Sudan.
Dua orang penyintas menceritakan kepada AFP pengalaman mereka meloloskan diri dari lokasi tambang dalam situasi yang mencekam.
Seorang penambang bernama Abdelaziz Youssef mengatakan bahwa sebuah pesawat jet muncul di atas lokasi tambang sekitar pukul 08.00 pagi pada Sabtu dan "melakukan serangan sebanyak lima kali; banyak orang tewas."
"Kami berlari mendaki gunung karena ketakutan akan adanya serangan susulan," ujarnya kepada AFP.
Penyintas lainnya, Sharaf Ali, mengatakan bahwa terdapat ribuan orang yang sedang bekerja di lokasi terpencil tersebut saat serangan terjadi. "Setelah serangan udara, orang-orang berlarian; sebagian menuju Pasar Al-Ansary sementara yang lain pergi ke arah berbeda. Itulah sebabnya tidak ada yang tahu pasti berapa jumlah korban tewas," ujarnya saat berada di pasar emas, tepat di sebelah selatan Segitiga Halayeb.
Kedua penyintas mengaku melihat jenazah tergeletak di tanah saat mereka melarikan diri, dan dikhawatirkan masih banyak orang yang terjebak di bawah reruntuhan, mengingat lokasi kejadian sangat jauh dari pusat perkotaan mana pun.
Demam emas
Sejak April 2023, konflik ini telah menewaskan lebih dari 200.000 orang dan memicu krisis kemanusiaan parah yang mendorong banyak orang terjun ke industri pertambangan emas yang berbahaya—sebuah sektor yang turut mendanai upaya perang kedua belah pihak yang bertikai.Wilayah pegunungan terjal yang kaya akan cadangan mineral ini membentang sepanjang ratusan kilometer dan mencakup wilayah sengketa Segitiga Halayeb.
Kelompok Emergency Lawyers menyatakan bahwa serangan tersebut terjadi di dalam wilayah Sudan.
"Serangan berulang di wilayah perbatasan yang kaya akan emas dan mineral ini mencerminkan keinginan otoritas Mesir untuk memperluas dan menegaskan kendali atas sumber daya alam Sudan," demikian pernyataan kelompok tersebut.
Pada bulan Juni, militer Mesir menyatakan bahwa mereka melancarkan operasi tersebut "di dalam wilayah Mesir".
Mereka melaporkan penahanan terhadap 223 orang, termasuk 136 warga negara asing, serta mengumumkan kampanye untuk memerangi "penambangan emas ilegal dan penyelundupan senjata" di kawasan tersebut.
Meskipun mendukung panglima militer Sudan, Abdel Fattah al-Burhan, Mesir memandang perang yang terjadi di perbatasannya ,yang membentang sepanjang 1.200 kilometer dari Laut Merah hingga Libya, sebagai ancaman besar bagi keamanan nasionalnya.
Di sebelah timur Sungai Nil, wilayah perbatasan yang sulit diawasi ini selama bertahun-tahun telah menjadi jalur utama bagi perdagangan emas, perdagangan ilegal, dan perdagangan manusia—aktivitas yang terus diupayakan untuk dibendung oleh Mesir, termasuk melalui langkah deportasi massal.