BNPB: Modifikasi Cuaca di Papua Selatan Terkendala Minimnya Bibit Awan

Tangkapan layar - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan di Jakarta, Selasa (3/11/2026) ANTARA/M Riezko Bima Elko Prasetyo.

BNPB: Modifikasi Cuaca di Papua Selatan Terkendala Minimnya Bibit Awan

Siti Yona Hukmana • 3 November 2026 18:00

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Provinsi Papua Selatan, terkendala minimnya bibit-bibit awan penghujan. Modifikasi cuaca menjadi salah satu instrumen penting yang diandalkan untuk memperbesar potensi hujan di wilayah-wilayah prioritas yang rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BNPB telah menyebar 20 kg bahan semai natrium klorida (NaCl) secara kumulatif. Upaya itu dilakukan melalui pelaksanaan 20 sorti penerbangan modifikasi cuaca di Papua Selatan.

"Dengan pelaksanaan OMC yang terus dievaluasi dan disesuaikan dengan ketersediaan awan, BNPB berharap penanganan darurat karhutla di Papua Selatan dapat berjalan lebih efektif ke depannya," kata Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan di Jakarta, dilansir Antara, Selasa, 3 November 2026.

Berton mengungkapkan sebaran titik panas atau hotspot baru yang terdeteksi oleh petugas justru terpantau lebih banyak terkonsentrasi di bagian timur serta bagian selatan provinsi tersebut.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Antara.

Sementara berdasarkan pemantauan cuaca, pertumbuhan awan di wilayah Papua Selatan bagian tengah dan utara dinilai relatif memadai. Sehingga, pelaksanaan OMC dapat difokuskan secara optimal di kedua kawasan tersebut.

"Penanganan saat ini ada di seluas 455 hektare (yang terbakar) atau turun 25 persen. Pemerintah melalui BNPB akan terus memantau perkembangan cuaca secara berkala serta menyesuaikan strategi penanganan udara guna mengantisipasi perluasan dampak karhutla di tengah dinamika cuaca yang ada," kata Berton.

(Siti Yona Hukmana)