Bio Farma Kembangkan Teknologi Vaksin mRNA dan Malaria

President Director Bio Farma Shadiq Akasya. Foto: Metrotvnews.com/Tiaranissa Juliansyah.

Bio Farma Kembangkan Teknologi Vaksin mRNA dan Malaria

Husen Miftahudin • 28 October 2026 20:51

Jakarta: PT Bio Farma (Persero) mengembangkan platform teknologi messenger RNA (mRNA) melalui kolaborasi dengan sejumlah negara. Selain pengembangan teknologi tersebut, perusahaan juga menyebut rencana pengembangan vaksin malaria dalam pemaparan mengenai kegiatan riset dan pengembangan vaksin.
 
President Director PT Bio Farma (Persero) Shadiq Akasya mengatakan, pengembangan vaksin membutuhkan berbagai platform teknologi, mulai dari vaksin inaktif, live-attenuated, protein subunit, konjugat, rekombinan, hingga mRNA. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari aktivitas riset yang dilakukan perusahaan, baik secara internal maupun melalui kolaborasi dengan institusi lain.
 
"Yang terbaru, mungkin seperti mRNA, kita tahu tentang mRNA yang populer adalah ketika pandemi covid-19 pada 2019 sampai 2021, ini diinisiasi dari Moderna dan Pfizer. Sekarang kita mengikuti platform seperti mRNA," ucap Shadiq dalam acara Danantara Technology Innovation Investment Forum 2026 di Jakarta, Rabu, 28 Oktober 2026.
 
Selain mengembangkan platform mRNA, Shadiq menyebut pengembangan vaksin malaria dalam rangkaian riset dan pengembangan vaksin yang dilakukan perusahaan. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pengembangan vaksin merupakan bagian dari kegiatan riset dari tahap penemuan hingga pengembangan produk yang dapat diproduksi dan didistribusikan.
 



(Ilustrasi riset. Foto: BRIN)
 

Kolaborasi dukung pengembangan teknologi vaksin

 
Shadiq menjelaskan engembangan vaksin membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perusahaan riset dan universitas. Kolaborasi diperlukan dalam proses pengembangan teknologi kesehatan, selain kemampuan riset yang dimiliki perusahaan sendiri.
 
"Tidak hanya dari Bio Farma, saya pikir kita harus berkolaborasi dengan perusahaan riset, universitas, dan lainnya yang ingin memberikan intens ke industri kesehatan," ucap dia.
 
Shadiq menyebut pengembangan vaksin dimulai dari tahap penemuan melalui riset, kemudian dilanjutkan dengan pengembangan dan pengujian. Sebelum produk dapat digunakan, pengembangan vaksin juga harus melalui pembuktian keamanan dan efikasi. Narasumber menyebut kolaborasi dengan BPOM dan pemenuhan standar WHO sebagai bagian dari upaya memastikan persyaratan kualitas produk.
 
Tahap berikutnya adalah produksi dan distribusi agar vaksin dapat menjangkau pengguna. Narasumber menekankan bahwa kegiatan perusahaan mencakup proses dari hulu hingga hilir, mulai dari penelitian dan pengembangan sampai produksi serta penyaluran produk. (Tiaranissa Juliansyah)

(Husen Miftahudin)