Ilustrasi Medcom.id
Penempatan Industri sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi Dinilai Sejalan dengan Visi Presiden
Achmad Zulfikar Fazli • 3 October 2026 00:04
Jakarta: Kementerian Perindustrian berencana menempatkan industri sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus penciptaan lapangan kerja. Kebijakan ini dinilai sesuai dengan visi ekonomi Presiden Prabowo Subianto.
“Pak Menteri Sarmuji (Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji) langsung tancap gas ingin menerjemahkan visi Presiden Prabowo dengan menempatkan industri sebagai salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Ini sejalan dengan agenda hilirisasi yang berada di bawah koordinasi Menko Bahlil,” kata Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi, di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.
Abdul Rahman berpandangan, penguatan industri merupakan bagian penting dari transformasi struktur ekonomi Indonesia menuju kegiatan ekonomi dengan nilai tambah lebih tinggi. Proses tersebut antara lain ditandai dengan berkembangnya industri pengolahan, akumulasi modal, transfer teknologi dan peningkatan produktivitas.
Dia melihat pengembangan industri padat teknologi dan padat karya dapat berjalan secara beriringan. Industri berbasis teknologi berperan dalam peningkatan produktivitas dan daya saing, sedangkan industri padat karya berkontribusi penting terhadap penciptaan kesempatan kerja.
“Menurut saya, industri padat teknologi dan padat karya bisa dikembangkan secara simultan. Dengan begitu, peningkatan produktivitas dan nilai tambah dapat berjalan beriringan dengan perluasan lapangan kerja,” ujar Abdul Rahman.
Dia melihat ruang sinergi yang besar antara hilirisasi dan industrialisasi. Hilirisasi di bawah koordinasi Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia, menurut dia, dapat semakin memperluas pengolahan bahan mentah menjadi produk setengah jadi maupun produk jadi yang berbasis sumber daya mineral, pertanian, maupun perikanan.
“Hilirisasi di bawah koordinasi Menko Bahlil memiliki ruang yang sangat besar untuk mendorong nilai tambah dari sumber daya yang kita miliki. Bukan hanya mineral, tetapi juga pertanian dan perikanan. Semakin panjang proses pengolahannya dilakukan di dalam negeri, semakin besar pula potensi nilai tambah yang tinggal di Indonesia,” kata Abdul Rahman.
Di sisi lain, Abdul Rahman memandang penguatan industri substitusi impor dapat menjadi salah satu ruang kebijakan yang melengkapi agenda hilirisasi di bawah kepemimpinan Sarmuji di Kementerian Perindustrian.
“Selain industri yang tumbuh dari hilirisasi, saya melihat industri substitusi impor juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Indonesia memiliki pasar domestik yang besar dan ketersediaan tenaga kerja yang dapat menjadi modal untuk memperkuat kapasitas produksi nasional,” ujar Abdul Rahman.

Sekretaris Bidang Kebijakan Ekonomi DPP Partai Golkar, Abdul Rahman Farisi. Dok. Istimewa
Menurut dia, pengembangan kedua jalur tersebut dapat saling melengkapi. Hilirisasi memperbesar nilai tambah sumber daya domestik, dan industri substitusi impor dapat memperkuat basis produksi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk dari luar negeri.
“Karena itu saya melihat sinergi Menko Bahlil dan Menteri Sarmuji akan sangat strategis. Hilirisasi dan industrialisasi memiliki ruang untuk saling menguatkan, baik dalam peningkatan nilai tambah, penguatan industri nasional maupun penciptaan lapangan kerja,” kata Abdul Rahman.
Dia menilai kolaborasi tersebut dapat memberikan kontribusi terhadap upaya pemerintah mencapai visi pertumbuhan ekonomi delapan persen yang dicanangkan Presiden Prabowo.
“Pak Bahlil dengan agenda hilirisasi dan Pak Sarmuji dengan penguatan industrinya berada pada mata rantai ekonomi yang saling berhubungan. Sinergi keduanya saya kira dapat menjadi salah satu kekuatan penting dalam menerjemahkan visi Presiden: pertumbuhan yang lebih tinggi, industri yang semakin kuat, dan kesempatan kerja yang semakin luas,” ujar Abdul Rahman.