Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Brent Tembus USD104/Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Dunia Melonjak 3%, Brent Tembus USD104/Barel

Husen Miftahudin • 9 October 2026 08:00

Houston: Harga minyak dunia melonjak lebih dari tiga persen pada perdagangan Kamis waktu setempat, didorong serangan terhadap kapal komersial di Timur Tengah dan kekhawatiran gangguan pasokan akibat cuaca buruk di pesisir Teluk Amerika Serikat (AS).
 
Kenaikan harga minyak sempat terkikis setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilihan paruh waktu pada November 2026. Sebelumnya, sejumlah laporan media menyebutkan pemerintah AS tengah mempertimbangkan langkah militer terhadap Teheran.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 9 Oktober 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember, yang menjadi patokan global, naik 3,9 persen menjadi USD104,11 per barel setelah sempat menguat lebih dari lima persen.
 
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November bertambah 3,3 persen menjadi USD91,18 per barel.
 

 

AS masih negosiasi dengan Iran

 
Trump menyatakan pembicaraan dengan Iran masih berlangsung dan Teheran akan memberikan tanggapan terhadap proposal Washington. Pernyataan tersebut disampaikan melalui platform Truth Social miliknya. "Kami sedang mengadakan diskusi produktif dengan Republik Islam Iran," kata Trump.
 
Trump juga menegaskan AS tidak akan melancarkan serangan terhadap Iran sebelum pemilihan paruh waktu yang dijadwalkan berlangsung pada 3 November 2026. Ia menyebut blokade tetap diberlakukan, sementara arus minyak melalui Selat Hormuz mencapai rekor yang diklaimnya sebesar 22 juta barel dalam satu malam.
 
Majalah The Atlantic sebelumnya melaporkan Trump tengah mempertimbangkan langkah tersebut. Sementara itu, Kantor Berita Tasnim Iran, mengutip Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, melaporkan Teheran sedang meninjau tanggapan AS terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Proposal tersebut mensyaratkan AS menghentikan seluruh permusuhan dan mencairkan aset Iran.
 
Adapun, lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz dilaporkan merosot ke level terendah dalam lebih dari dua bulan di tengah meningkatnya serangan terhadap kapal tanker. Laporan Reuters sebelumnya, yang mengutip data perusahaan analitik Kpler, menyoroti penurunan aktivitas pengiriman di jalur perairan strategis tersebut.
 
Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz selama pekan sebelumnya. Teheran juga menegaskan jalur perairan tersebut tetap tertutup di tengah kebuntuan berkepanjangan dengan Washington.
 
Pada Rabu, 7 Oktober 2026, badan Operasi Perdagangan Maritim Inggris melaporkan sebuah kapal tanker dihantam sejumlah proyektil di sebelah utara Qatar. Insiden tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa.
 
Serangan terhadap kapal tanker Iran juga disebut mencapai tingkat tertinggi dalam satu pekan sejak perang AS-Iran dimulai. Peningkatan serangan terjadi tidak lama setelah aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz sempat kembali ke tingkat sebelum perang pada September 2026.
 
Selain Selat Hormuz, pelayaran di Laut Merah dan ekspor minyak Arab Saudi turut menjadi perhatian. Permusuhan antara Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan berlanjut pada pekan ini. Kelompok Houthi juga disebut melancarkan serangan terhadap kilang minyak di Riyadh.
 
Di sisi lain, Departemen Keuangan AS pada Kamis, 8 Oktober 2026, menjatuhkan sanksi terhadap 17 kapal yang disebut sebagai bagian dari armada bayangan Iran. Kapal-kapal tersebut dituding mengangkut minyak mentah Iran ke sejumlah pasar di Asia Selatan dan Asia Timur. Sanksi tersebut merupakan bagian dari upaya Washington memperluas tekanan ekonomi terhadap Teheran.


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Ancaman badai Isaias

 
Selain ketegangan geopolitik, harga minyak mendapat dorongan dari kekhawatiran gangguan produksi di pesisir Teluk AS menjelang kedatangan Badai Isaias.
 
Badan Layanan Cuaca Nasional AS memperingatkan badai tersebut berpotensi menguat dengan cepat dan mencapai pesisir utara Teluk Meksiko pada akhir pekan. Laporan pada Kamis pagi menyebutkan Isaias telah berkembang menjadi badai.
 
Badai diperkirakan membawa hujan lebat dan angin kencang setara badai di wilayah Teluk Meksiko. Sejumlah perusahaan minyak dan gas besar dilaporkan mulai mengevakuasi personel nonesensial dari fasilitas lepas pantai mereka.
 
BP, Chevron, dan Shell termasuk perusahaan yang menjadi perhatian terkait potensi gangguan produksi akibat badai tersebut. Produksi minyak berpotensi hilang di seluruh wilayah Teluk mencapai 11,2 juta barel selama badai berlangsung.
 
Data yang dirilis pada Rabu, 7 Oktober 2026, menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 3,2 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober 2026. Penurunan tersebut berlawanan dengan perkiraan pasar yang sebelumnya memperkirakan kenaikan persediaan.
 
Di sisi lain, harga minyak sempat terkoreksi pada Rabu setelah Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan penyelesaian pelepasan cadangan minyak sebanyak 400 juta barel yang telah diumumkan sebelumnya dapat membawa sekitar 100 juta barel ke pasar. Meski demikian, belum jelas apakah langkah tersebut akan mencakup pelepasan cadangan minyak tambahan.

(Husen Miftahudin)