6 Risiko Global yang Membayangi Ekonomi RI 2027, dari Geopolitik hingga Suku Bunga

Chief Ekonom Permata Bank Josua Pardede. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan.

6 Risiko Global yang Membayangi Ekonomi RI 2027, dari Geopolitik hingga Suku Bunga

Husen Miftahudin • 22 October 2026 13:44

Jakarta: Perekonomian Indonesia menghadapi sejumlah tantangan pada 2027 seiring meningkatnya ketidakpastian global. Ketegangan geopolitik, suku bunga tinggi, risiko gangguan produksi pangan, hingga perlambatan ekonomi Tiongkok menjadi sejumlah faktor yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi domestik.

Chief Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai dinamika global tidak hanya menghadirkan risiko terhadap pertumbuhan ekonomi, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi nasional.

Menurut dia, Indonesia perlu mengantisipasi berbagai tekanan eksternal melalui diversifikasi pasar ekspor, peningkatan produktivitas, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta upaya menarik investasi ke sektor-sektor yang memiliki nilai tambah.
 
"Ketidakpastian global tidak serta-merta menghapus peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia," ujar Josua dalam talk show yang diselenggarakan Permata Bank, Kamis, 22 Oktober 2026.
 
Ia menekankan pentingnya kualitas kebijakan, ketepatan strategi, serta pengelolaan risiko dalam pengambilan keputusan ekonomi di tengah perubahan kondisi global.
 

 

Enam risiko global yang perlu diantisipasi


Josua mengidentifikasi sejumlah risiko global yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan dan pasar keuangan pada 2027. Risiko tersebut mencakup ketegangan geopolitik di Timur Tengah, suku bunga global yang bertahan tinggi, gangguan produksi pangan akibat El Niño, perlambatan ekonomi Tiongkok, fragmentasi perdagangan internasional, serta meningkatnya persaingan teknologi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok.
 
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, misalnya, berpotensi memengaruhi harga energi dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi. Kondisi tersebut juga dapat menambah tantangan bagi pengelolaan fiskal pemerintah.

Sementara itu, perlambatan ekonomi Tiongkok berpotensi memengaruhi permintaan terhadap komoditas Indonesia. Di sisi lain, fragmentasi perdagangan dan persaingan teknologi dapat mendorong perubahan pola perdagangan, penempatan investasi, serta rantai pasok global.

"Ketidakpastian global tidak serta-merta menghilangkan peluang pertumbuhan ekonomi kita," jelas Josua.

Menurut Josua, perubahan tersebut perlu direspons melalui penguatan fundamental ekonomi domestik. Indonesia perlu memperluas pasar ekspor, meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan pangan dan energi, serta mendorong investasi yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian.

Di sisi lain, Mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat Dino Patti Djalal menilai Indonesia memiliki posisi strategis di tengah ketidakpastian geopolitik global karena tidak dipandang sebagai musuh oleh negara-negara besar. Posisi tersebut menjadi peluang bagi Indonesia untuk memperkuat hubungan internasional sekaligus menjaga kepentingan nasional di tengah persaingan antarnegara.

"Kita berada di tempat yang unik. Bagaimana caranya kita bisa dekat tanpa membuat salah satu pihak merasa Indonesia terlalu dekat dengan pihak yang lain?" ujar Dino.

Karena itu, ia menilai Indonesia perlu memanfaatkan peluang kerja sama dengan berbagai negara tanpa bergantung pada satu kekuatan tertentu. Strategi tersebut dinilai penting untuk memperluas pilihan mitra perdagangan dan investasi sekaligus menjaga posisi Indonesia di tengah persaingan global.

Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2026 Semakin Menguat Berkat Ini

(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Suku bunga tinggi batasi ruang pelonggaran


Selain risiko geopolitik dan perdagangan, arah kebijakan moneter negara-negara maju juga menjadi perhatian. Josua menilai kecenderungan suku bunga global bertahan tinggi atau higher for longer berpotensi membatasi ruang pelonggaran kebijakan moneter di Indonesia.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi biaya pendanaan, pergerakan nilai tukar, serta keputusan investasi pelaku usaha. Perubahan sentimen investor di pasar keuangan juga dapat berlangsung cepat dan memengaruhi harga saham, obligasi, maupun rupiah.

Di sisi lain, dampak kenaikan harga energi dapat berlangsung lebih panjang karena merambat ke biaya impor, biaya produksi, inflasi, hingga daya beli masyarakat.

Meski demikian, Josua menilai Indonesia masih memiliki sejumlah faktor penopang di tengah ketidakpastian global. "Indonesia masih memiliki sejumlah faktor penopangnya, terutama pasar domestik yang besar," sebut dia.

Dari sisi kebijakan, koordinasi instrumen moneter dan fiskal juga diperlukan untuk menjaga agar tekanan eksternal tidak mengganggu keberlanjutan aktivitas ekonomi domestik. Josua menekankan pentingnya pengelolaan risiko agar tekanan global tidak menghambat aktivitas ekonomi dalam negeri.

"Prioritas ini bukan semata-mata untuk menghindari suatu tekanan global, tetapi bagaimana kita memastikan transmisi dari risiko tadi bisa tetap terkendali dan tidak mengganggu keberlanjutan aktivitas ekonomi domestik," kata Josua menambahkan.

Dengan demikian, tantangan pada 2027 bukan hanya menghindari tekanan global, melainkan memastikan perekonomian tetap mampu tumbuh melalui penguatan fundamental dan pengelolaan risiko yang tepat. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Husen Miftahudin)