BMKG Duga Udara Kabur di Bima dan Dompu Dipicu Pembakaran Lahan

Asap membubung dari lahan pertanian yang terbakar di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, pada Oktober 2026. Aktivitas pembakaran lahan berpotensi menambah partikel di atmosfer dan meningkatkan risiko penurunan kualitas udara, terutama ketika curah hujan

BMKG Duga Udara Kabur di Bima dan Dompu Dipicu Pembakaran Lahan

Whisnu Mardiansyah • 27 October 2026 17:01

Bima: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menduga fenomena udara kabur atau haze yang terjadi di wilayah Bima dan Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), sejak pertengahan Oktober 2026 berkaitan dengan aktivitas pembakaran lahan setempat. Minimnya curah hujan dan kemungkinan inversi suhu juga dinilai memengaruhi kondisi atmosfer sehingga partikel di udara bertahan lebih lama.

Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima, Moch Syaiful Annas, mengatakan dugaan pembakaran lahan tersebut masih membutuhkan pemeriksaan langsung untuk memastikan sumber dan lokasinya.

"Fenomena udara kabur diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan lokal, tetapi sumber dan lokasi pastinya masih memerlukan verifikasi langsung di lapangan," kata Syaiful di Bima, seperti dilansir Antara, Selasa, 27 Oktober 2026.

Annas menjelaskan, inversi suhu terjadi ketika lapisan udara yang lebih hangat berada di atas lapisan udara yang lebih dingin. Kondisi ini dapat menghambat pergerakan udara secara vertikal sehingga partikel polutan tertahan di dekat permukaan.

Hasil pengamatan terbaru di Stasiun Meteorologi Sultan Muhammad Salahuddin Bima menunjukkan jarak pandang mencapai sekitar delapan kilometer.

"Kondisi tersebut menyebabkan objek yang berada jauh tampak samar dan berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya pada sektor transportasi darat, laut, dan udara," ujarnya.
 


Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada Selasa (27 Oktober) pukul 13.00 Wita, BMKG belum mendeteksi sebaran kabut asap yang signifikan di wilayah Bima dan Dompu.

Meski demikian, tidak terdeteksinya sebaran asap melalui satelit tidak serta-merta menunjukkan atmosfer terbebas sepenuhnya dari partikel asap. Partikel dengan konsentrasi sangat tipis atau yang berada di bawah tutupan awan berpotensi tidak teridentifikasi dalam pengamatan satelit.

Di sisi lain, hujan yang mulai turun di sejumlah wilayah Bima dan Dompu dalam beberapa hari terakhir berpotensi membantu mengurangi partikel di atmosfer. Air hujan dapat membawa sebagian partikel yang melayang di udara turun ke permukaan melalui proses wet deposition atau deposisi basah.

Efektivitas proses tersebut bergantung pada intensitas, durasi, dan cakupan hujan, serta karakteristik partikel yang terdapat di atmosfer.

"Kondisi udara kabur masih perlu diamati lebih lanjut karena perubahan jarak pandang dapat berbeda di setiap lokasi," ujarnya.


Ilustrasi udara kabur (Metro TV/Akhmaddiannor)

BMKG mengimbau pengguna jalan untuk mengurangi kecepatan kendaraan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu sesuai kondisi ketika jarak pandang menurun. Masyarakat yang bepergian menggunakan transportasi laut dan udara juga diminta memantau informasi meteorologi terbaru serta mengikuti arahan otoritas transportasi demi keselamatan perjalanan.

Selain itu, masyarakat disarankan membatasi kegiatan luar ruangan yang tidak mendesak dan menggunakan masker yang sesuai apabila udara kabur disertai asap atau indikasi penurunan kualitas udara. BMKG turut mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah, semak, maupun lahan secara terbuka. Aktivitas tersebut berpotensi menambah partikel di atmosfer sekaligus meningkatkan risiko kebakaran.

(Whisnu M)