Protes Biaya Hidup Meluas ke Italia dan Portugal, Kerusuhan Pecah di Milan

Ratusan orang di dekat sebuah katedral di Milan, Italia, berunjuk rasa memprotes tingginya biaya hidup. (EPA)

Protes Biaya Hidup Meluas ke Italia dan Portugal, Kerusuhan Pecah di Milan

Willy Haryono • 18 October 2026 19:01

Milan: Gelombang demonstrasi menentang kenaikan biaya hidup yang dalam beberapa pekan terakhir melanda Spanyol dan Prancis kini meluas ke Italia dan Portugal sepanjang akhir pekan.

Di Milan, Italia, demonstrasi berujung bentrokan dengan polisi dan pembakaran properti, sementara para demonstran di Lisbon, Portugal, mendirikan kamp tenda untuk memprotes krisis perumahan.

Mengutip dari Guardian, Minggu, 18 Oktober 2026, aksi protes di pusat Kota Milan awalnya berlangsung damai. Namun, demonstrasi tersebut berakhir ricuh setelah sejumlah perusuh bertopeng melemparkan batu, bongkahan paving, dan benda lainnya ke arah polisi antihuru-hara. Mereka juga membakar barikade yang dibuat dari meja-meja bar.

Polisi menggunakan meriam air dan gas air mata untuk membubarkan massa. Rekaman setelah kerusuhan memperlihatkan sebuah mobil milik kepolisian Carabinieri mengalami kerusakan parah.

Kantor berita LaPresse melaporkan sedikitnya dua polisi terluka dan sekitar 50 demonstran ditahan, termasuk banyak di antaranya yang masih di bawah umur.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni mengatakan demonstrasi merupakan hak warga, tetapi “membakar kota-kota kita bukan."

Dalam unggahan di media sosial, Meloni menuduh para “perusuh” memanfaatkan demonstrasi untuk “menebar kekacauan, menyerang mereka yang bertugas menjaga keamanan, dan menyandera seluruh kota."

Wali Kota Milan dari kubu kiri tengah, Giuseppe Sala, mengatakan alasan di balik demonstrasi dapat dipahami, tetapi kekerasan terhadap aparat penegak hukum dan kerusakan serius terhadap kota tidak dapat dibenarkan.

Kamp tenda protes krisis perumahan di Lisbon

Di Lisbon, para demonstran mendirikan kamp tenda untuk menuntut langkah pemerintah mengatasi krisis perumahan dan kenaikan biaya hidup. Aksi tersebut mengingatkan pada kamp serupa yang didirikan di Madrid, Spanyol, tiga pekan sebelumnya.

Ratusan demonstran berkumpul pada malam hari di Lapangan Rossio, kawasan ramai yang menjadi pusat wisata ibu kota Portugal. Aksi itu berlangsung setelah demonstrasi yang diikuti ribuan orang di berbagai wilayah negara tersebut.

Para peserta bertekad bertahan semalaman. Ratusan orang terlihat duduk mengelilingi patung Raja Pedro IV yang mendominasi lapangan sambil menyanyikan lagu-lagu.

“Kelas sosial Portugal yang membayar pajak, yang menjaga negara ini tetap berjalan, sedang diserang dan kehilangan hak-haknya, terutama hak atas tempat tinggal,” kata Elena Costa, pekerja sosial berusia 46 tahun. “Jadi, kami semua berkumpul di sini untuk mencoba menjelaskan bahwa kami sedang tercekik.”

Antonio Margado, insinyur berusia 52 tahun, mengkritik pemerintah kanan tengah karena menerapkan “liberalisasi sewa secara total”.

“Pemilik properti semakin dilindungi, sementara penyewa yang membutuhkan rumah justru semakin sedikit mendapat perlindungan,” ujarnya.

Harga rumah Portugal melonjak

Menurut data resmi, harga perumahan di Portugal naik 124 persen selama periode 2015–2024, sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata Uni Eropa.

Dampak kenaikan tersebut sangat terasa bagi kaum muda dan penduduk Lisbon. Sekitar seperempat dari lebih dari 11 juta penduduk Portugal tinggal di kawasan metropolitan ibu kota itu.

Kamp tenda yang didirikan di Lisbon pada Sabtu memperluas aksi protes perumahan yang sebelumnya dimulai di Kota Porto, Portugal utara. Di kota tersebut, puluhan tenda telah lebih dahulu didirikan.

Dalam demonstrasi sebelumnya di Lisbon yang diserukan oleh konfederasi serikat pekerja CGTP, peserta menuntut perbaikan layanan publik, pensiun, dan upah, serta kebijakan untuk mengatasi lonjakan biaya perumahan.

Perdana Menteri Portugal Luís Montenegro mengatakan pemerintahannya memahami keinginan masyarakat untuk menyampaikan kemarahan atas hal-hal yang mereka anggap sebagai kekurangan dalam kebijakan publik.

Namun, ia memperingatkan para pesaing politik agar tidak “mengimpor suasana ketidakstabilan dan protes ke Portugal yang pada kenyataannya tidak mendapat dukungan di masyarakat Portugal”. Pernyataan itu kemungkinan merujuk pada demonstrasi yang berujung kekerasan di Prancis.

Baca juga: Seorang Demonstran Tewas dalam Kerusuhan di Paris, Satu Remaja Kehilangan Tangan

(Willy Haryono)