Podium MI: Seni Mencintai Kehidupan

Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.

Podium MI: Seni Mencintai Kehidupan

Abdul Kohar • 29 September 2026 05:39

SEPAK bola modern semakin menyerupai pabrik mobil. Setiap baut dihitung, setiap gerakan diprogram, setiap kehilangan bola dicatat seperti kehilangan uang kas. Pemain diminta berlari menurut garis, menekan pada detik tertentu, dan sebisa mungkin jangan berbuat sesuatu yang membuat pelatih memegangi kepala.

Lalu datanglah Lamine Yamal. Anak muda itu membawa bola seolah-olah membawa mainan dari halaman rumah. Ia menantang satu pemain, melewati pemain kedua, kemudian mengundang pemain ketiga. Kadang berhasil, kadang bola direbut. Akan tetapi, ia tidak berubah menjadi petugas administrasi lapangan yang cuma memindahkan bola dari kolom kanan ke kolom kiri.

Yamal telah menjadi fenomena sejak belia. Pada usia 17 tahun, ia ikut membawa Spanyol menjuarai Piala Eropa 2024. Dua tahun kemudian, ia mengangkat Piala Dunia 2026. Bersama Barcelona, pemain berdarah Maroko dan Ginea Ekuator itu telah mengumpulkan gelar liga dan piala domestik.

Namun, keistimewaan Yamal bukan terutama pada piala. Yang lebih berharga ialah cara ia bermain. Di tengah sepak bola yang begitu takut kehilangan bola, Yamal justru berani mengambil risiko. Ia menari, mengecoh, mengumpan tanpa diduga, dan membuat penonton teringat bahwa pertandingan bukan rapat evaluasi tahunan.
 


Keberanian bersenang-senang itu dipelajarinya di jalanan Rocafonda. Adapun 'tata bahasa' permainannya ditempa di La Masia. Gabungan keduanya melahirkan pemain yang paham sistem, tetapi tidak diperbudak sistem.

“Saya tidak bermain demi uang. Saya bermain sepak bola karena saya mencintainya,” katanya kepada The Guardian, sesaat sebelum timnas Spanyol melawan Inggris di Euro Nations League. Ia bermain untuk menggiring bola, melakukan satu-dua sentuhan, membantu rekan yang belum pernah mencetak gol supaya mencetak gol, menggembirakan pendukung, dan mendengar teriakan 'ole'. Seusai pertandingan, ukuran keberhasilannya terdengar sederhana, “Saya bersenang-senang.”

Tentu saja, bersenang-senang bukan berarti bermalas-malasan. Padahal, kegembiraan Yamal ditopang latihan, keberanian, dan kecerdasan membaca permainan. Cinta tidak menghapus kerja keras; cinta membuat kerja keras tidak terasa seperti hukuman seumur hidup.

Di sinilah Yamal seperti sedang memainkan pemikiran Erich Fromm. Dalam To Have or to Be?, Fromm membedakan modus memiliki dan modus menjadi. Dalam modus memiliki, manusia mengukur dirinya melalui harta, jabatan, kuasa, dan hasil yang dikumpulkan. Dalam modus menjadi, manusia mengalami hidup secara penuh, seperti mencintai, mencipta, berbagi, dan hadir bagi orang lain.


Gelandang serang Barcelona, Lamine Yamal. Foto: Instagram @championsleague.

Sepak bola pun dapat terjebak dalam modus memiliki. Pemain dinilai hanya dengan jumlah gol, assist, trofi, harga transfer, pengikut media sosial, dan angka kontrak. Statistik memang penting, tetapi manusia bukan lembar Excel yang kebetulan mengenakan sepatu bola. Bila semua tindakan harus menghasilkan angka, sebuah umpan yang indah tetapi tidak menjadi assist akan dianggap sia-sia. Betapa miskinnya pertandingan semacam itu.

Yamal memperlihatkan modus menjadi. Ia tidak sekadar memiliki bola, tetapi juga berdialog dengannya. Ia tidak hanya menaklukkan lawan, tetapi juga mengajak mereka menjadi bagian dari pertunjukan. Ia tidak semata mencari gol pribadi, tetapi juga kegembiraan kawannya dan sorak penonton. Di situ sepak bola kembali memiliki sentuhan kemanusiaan, yakni spontan, berisiko, tidak selalu sempurna, tetapi hidup.

Pelajaran Yamal berlaku di luar stadion. Kita hidup dalam zaman yang rajin menghitung pencapaian, tetapi kerap lupa merasakan perjalanan. Orang bekerja mengejar jabatan, belajar mengejar ijazah, bergaul mengejar jejaring, dan bahkan berlibur mengejar bahan unggahan. Kita memiliki banyak hal, tetapi tidak selalu hadir di dalam kehidupan.
 
Mencintai kehidupan bukan berarti menolak ambisi. Yamal tetap ingin menang. Namun, kemenangan tidak boleh mengusir kegembiraan dari jalan menuju kemenangan. Bila seluruh hidup hanya dipakai untuk mengejar hasil, kita mungkin tiba di puncak dengan lemari penuh piala, tetapi hati kosong seperti stadion setelah lampu dipadamkan.

Yamal mengingatkan kita agar jalani pekerjaan seperti ia menggiring bola—dengan kecakapan, keberanian mengambil risiko, kesediaan berbagi, dan sedikit kenakalan. Sesekali kita memang perlu berhenti menghitung, lalu bertanya, 'Apakah hari ini kita sungguh-sungguh hidup?'

Pada akhirnya, manusia tidak hanya memerlukan keberhasilan. Manusia juga membutuhkan kegembiraan agar tidak berubah menjadi mesin. Dari kaki kiri seorang anak Rocafonda, kita belajar bahwa mencintai permainan ialah salah satu cara paling jujur untuk mencintai kehidupan.

(Anggi Tondi)